Back to top

Bertobatlah, Wahai Orang Beriman!

tobatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak cucu Adam suka berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah orang-orang yang banyak bertobat.”[1]

Imam Ash Shan’âny rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan bahwa manusia tidak pernah suci dari kesalahan, karena ia diciptakan dengan lemah dan cenderung tidak tunduk kepada Tuhannya dalam mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangnya. Namun Allah ta’ala dengan kasih sayangnya membuka pintu tobat untuk hamba-hamba-Nya, serta mengabarkan bahwa orang yang paling baik dari orang-orang yang berbuat salah itu adalah yang banyak bertobat atas banyaknya kesalahan tersebut.”[2]

Dalam hadis Qudsi Allah berfirman,

يَا عِبَادي، إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ باللَّيلِ وَالنَّهارِ وَأَنَا أغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً فَاسْتَغْفِرُوني أغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kamu selalu berbuat salah di malam dan siang hari, sementara Aku mengampuni seluruh dosa. Maka memohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu.”[3]

Imam Al Ghazâly rahimahullah berkata, “Tobat menjadi kewajiban yang terus berlangsung. Karena manusia tidak akan suci dari maksiat. Jika ia tidak melakukan maksiat dengan anggota badannya, maka hatinya tidak pernah bersih dari keinginan untuk berbuat dosa. Jika bersih dari hal itu, pikirannya selalu dalam bayang-bayang bisikan setan yang melalaikannya dari dzikir kepada Allah.”[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلى اللهِ واسْتَغْفِرُوهُ، فإنِّي أتُوبُ في اليَومِ مئةَ مَرَّة

“Wahai manusia, bertobatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku pun bertobat kepada Allah dalam satu hari seratus kali.”[5]

Dengan demikian, tobat adalah salah satu tugas ibadah seorang mukmin sepanjang hayat. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diampuni dosanya baik yang telah lalu dan yang akan datang bertobat setiap harinya seratus kali, apalagi kita yang tidak mendapat jaminan apa-apa, ditambah lagi selalu berbuat dosa dan kesalahan setiap siang dan malam.

Dan, Allah berjanji, jika kita bertobat, kita akan mendapat keberuntungan. Semakin sering kita bertobat, kian banyak pula keuntungan yang akan kita raih.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kedudukan tobat adalah yang pertama, pertengahan dan yang terakhir. Seorang hamba yang sedang menjalani kehidupan tidak akan bisa berpisah dengannya. Ia harus terus bersamanya sampai mati. Jika ia berpindah ke tempat yang lain, tobat pun ikut menyertainya. Maka, tobat adalah titik pemberangkatan seorang hamba sekaligus titik akhir tujuannya. Kebutuhannya kepada tobat sangat penting sampai akhir hidupnya. Allah berfiman (yang artinya),

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nûr [24]: 31)

Ayat ini turun di Madinah. Allah menyeru kepada orang-orang beriman dan makhluk pilihan-Nya agar mereka bertobat setelah iman, kesabaran, hijrah dan jihad mereka. Kemudian Allah mengaitkan keberuntungan dengan tobat sebagai sebabnya. Artinya, jika kamu bertobat, kamu dalam harapan mendapat keuntungan. Tidak ada yang layak berharap keuntungan kecuali orang-orang yang bertobat.

Allah berfirman (yang artinya),

“Dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

(QS. Al Hujurât [49]: 11)

Allah membagi manusia kepada dua golongan; yaitu, (1) orang yang bertobat dan (2) orang yang zalim. Tidak ada golongan yang ketiga. Orang yang zalim adalah orang yang tidak bertobat. Tidak ada yang lebih zalim darinya, karena berarti ia tidak mengenal Rabbnya dan hak-Nya, juga tidak menyadari kekurangan dan keburukan perbuatan-perbuatan dirinya.

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menghitung dalam satu majlis, bahwa beliau mengucapkan, “Rabbigh fir lii wa tub ‘alayya innaka antat tawwaabur rahim.” (Ya Rabb, ampunilah aku, karuniakan tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Maha pemberi tobat dan Maha penyayang) Sebanyak seratus kali. Dan beliau tidak berdoa dengan doa apapun setelah turun firman Allah (yang artinya),

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr [110]: 1-3) melainkan, “Subhaanakal laahumma wa bihamdika, Allahummagh fir lii.” (Mahasuci Engkau ya Allah dengan pujian untuk-Mu. Ya Allah, ampunilah aku)[6]

_______________________

Catatan kaki:

[1] HR Ahmad: 3/198, Tirmidzi: 2499, Ibnu Majah: 4251. Ibnu Hajar mengatakan sanadnya kuat. Dihasankan oleh Al Albani dalam “Shahîh al Targhîb wa al Tarhîb, no 3139, Al Iraqi berkata, “Diriwayatkan Tirmidzi, dinyatakan olehnya sebagai hadis gharib, dinilai shahih sanadnya oleh Hakim dari hadis Anas. Aku berkata, “Di dalam sanadnya ada Ali bin Mas’adah, ia dinilai dhaif (lemah) oleh Bukhari.” (Takhrîj Ihyâ: 3623)

[2] Subulu al Salâm: 4/653.

[3] HR Muslim: 2577 dari hadis Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu.

[4] Dinukil dari Mukhtashor Minhâj al Qâshidin, hal. 251.

[5] HR Muslim: 2702 dari hadis Aghar bin Yasâr al Muzany radhiyallahu ‘anhu.

[6] Madâriju al Sâlikîn: 1/333-334

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info