Back to top

Jangan Menunda Tobat

mrkzy-islamic-card-18Jika telah ada kesadaran dalam diri kita untuk bertobat, maka segera lah kita melakukannya dan jangan menunda-nunda. Allah berfirman,

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera,  Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisâ` [4]: 17)

Mari kita simak penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah tentang ayat ini:  

“Makna firman Allah, “Kemudian mereka bertaubat dengan segera” mengandung dua kemungkinan makna:

Pertama, maknanya adalah, “kemudian mereka bertobat sebelum menghadapi kematian. Karena Allah akan menerima tobat seorang hamba jika ia bertobat sebelum menghadapi kematian dan azab tentu saja. Adapun setelah hadirnya kematian, orang bermaksiat tidak akan diterima tobatnya dan orang kafir tidak dapat kembali. Sebagaimana firman Allah kepada Firaun,

“Hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Yûnus [10]: 90)

Juga firman Allah, “Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang telah Berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.” (QS. Ghâfir [40]: 85)

Kedua, makna firman Allah, “bertobat dengan segera” adalah, segera setelah perbuatan dosa itu mereka lakukan. Maka maknanya, orang yang segera menjauhi perbuatan dosa yang telah dilakukannya, kembali kepada Allah dan menyesal telah melakukannya, Allah akan mengampuninya. Tidak demikian orang yang terus menerus dalam dosa-dosa sehingga perbuatan itu menjadi karakter yang kuat dalam dirinya. Hal itu akan membuatnya sulit untuk bertobat secara sempurna.

Biasanya, orang yang seperti itu tidak diberi taufiq dan dimudahkan untuk bertobat, seperti orang yang melakukan keburukan padahal ia memiliki ilmu yang sempurna dan keyakinan, namun menganggap ringan pengawasan Allah kepadanya. Ia berarti telah menutup pintu rahmat untuk dirinya sendiri. Ya, terkadang Allah memberi taufiq kepada seorang hamba yang telah terus-menerus melakukan dosa secara sengaja dan didasari keyakinan yang sempurna tadi, yang dengan tobat itu terhapus keburukan dan kesalahannya yang telah lalu. Akan tetapi rahmat dan taufiq Allah lebih dekat kepada orang yang pertama (yang bertobat dengan segera). Oleh karena itu Allah menutup ayat ini dengan, “dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” Maka dengan ilmunya, Allah mengetahui siapa orang yang jujur dalam tobatnya dan siapa yang dusta, lalu Allah membalas masing-masing dari keduanya sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Dan diantara kebijaksanaan-Nya adalah memberi taufiq kepada orang yang pantas untuk bertobat dan menghinakan orang yang pantas pula. Wallahu a’lam.”

Dari penjelasan Asy Syaikh diatas, setidaknya ada dua alasan mengapa kita harus bersegera untuk bertobat dan jangan menunda-nundanya:  

Pertama, karena kematian bisa datang kepada kita kapan saja. Kematian tidak akan menunggu kita bertobat terlebih dahulu jika telah datang waktu yang telah ditetapkan untuknya. Tidak ada yang dapat mengatur dan mengetahui kapan dan dimana waktu kematiannya akan tiba. Jika ajal telah datang, tidak ada seorang pun yang bisa mengakhirkan dan memajukannya. Allah berfirman,

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Ali Imrân [3]: 145)

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqmân [31]: 34)

Untuk itu segeralah bertobat, sebelum maut menjemput dan penyesalan pada saat itu sudah tidak berguna lagi, karena tobat tidak akan diterima oleh Allah.

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An Nisâ` [4]: 18)

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang Allah sebutkan dalam al Qur`an,

“(Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mu`minûn [23]: 99-100)

Kedua, begitu pula yang menjadi alasan kita harus segera bertobat adalah, karena perbuatan maksiat, jika telah lama dilakukan dan menjadi karakter dalam diri akan sulit untuk dijauhi. Bertobat dalam kondisi itu tidak semudah bertobat pada saat suatu perbuatan dosa baru pertama kali dilakukan. Seperti penyakit, semakin parah, semakin sulit pula untuk mengobatinya. Orang yang segera bertobat akan diberi taufiq dan kemudahan oleh Allah, sementara orang yang menunda-nunda tobatnya sedikit yang diberi taufiq oleh Allah.

Oleh karena itu, sebelum kian dalam terperosok, hendaknya kita menyelamatkan diri kita dengan segera. Sebelum jauh terseret arus kemaksiatan, seharusnya kita segera berenang ke tepian tobat dan meninggalkannya. Belenggu dosa akan sulit dilepaskan jika ia telah semakin kuat melilit tubuh kita. Gemuruhnya dalam hati akan menjalar kemana-mana jika dibiarkan dan terus diberikan toleransi.

Kalau sudah begitu, hati bisa mati dan tidak lagi mampu merasakan bahwa kemaksiatan itu sebuah keburukan yang mesti dihindari. Dalam kondisi ini, tidak heran banyak orang yang justru merasa bangga dengan perbuatan dosa dan kesalahannya, bahkan bersuka cita dalam kelamnya kedurhakaan kepada Pencipta mereka. Itulah orang yang hatinya telah terkunci dan mati. Seribu nasehat pun biasanya tidak akan mempan untuk menghidupkannya kembali, kecuali yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info