Back to top

Kisah Pernikahan Julaibib

worshipRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya sangat mencintai pada sahabatnya, namun juga sangat memperhatikan keadaan dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan kitab-kitab hadis yang lain bahwa Julaibib, seorang sahabat Anshar adalah orang yang tidak memiliki keistimewaan dunia apa pun. Julaibib tidak memiliki harta dan tidak pula rupawan. Ia juga bukan berasal dari kabilah yang terhormat, tidak memiliki kedudukan tinggi di masyarakat. Akan tetapi Julaibib memiliki satu keistimewaan yang melebihi semua itu. Yaitu ia sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencintainya. Apakah ada kemuliaan dan kedudukan yang lebih tinggi dari itu?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pemimpin yang selalu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan para sahabatnya tanpa membeda-bedakan kedudukan mereka. Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan salah seorang sahabatnya ini dengan penuh belas kasihan.  Beliau berkata seraya tersenyum, “Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

“Wahai Rasulullah, siapa yang akan bersedia menikahkan putrinya dengan orang sepertiku?” jawab Julaibib.

Rasulullah ingin mendorong sahabatnya yang miskin ini untuk menikah dan meringankan rasa putus asanya, lalu berkata lagi,

“Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

“Wahai Rasulullah, siapa yang akan mau menikahkahku dengan putrinya? Aku tidak punya harta benda, tidak pula rupawan, tidak memiliki kedudukan dan jabatan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang sahabatnya ini dengan cara pandang yang rendah dan sempit seperti itu. Beliau melihat agama dan ketakwaannya. Beliau kembali mengulang perkataannya yang ketiga kali,

“Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

Julaibib pun kembali mengulang jabawannya, “Wahai Rasulullah, siapa yang mau menikahkanku? Aku tidak punya harta dan kekayaan, kabilahku juga tidak terkenal dan tidak terhormat, aku tidak rupawan dan tidak punya kedudukan.”

Dari sini kemudian beliau mencoba merubah rasa putus asanya dengan kebahagiaan, “Wahai Julaibib, tidak perlu engkau pikirkan, aku yang akan mengurus pernikahanmu.”

“Wahai Rasulullah, siapa yang akan bahagia dengan orang miskin sepertiku ini?”

“Tidak wahai Julaibib, engkau tidak hina, engkau berkedudukan tinggi dan terhormat di sisi Allah.”

Beberapa hari setelah itu, beliau memanggil sahabatnya tersebut,

“Wahai Julaibib, pergilah engkau ke rumah seorang Anshar si fulan dan katakanlah kepadanya, “Rasulullah menyampaikan salam kepadamu dan beliau mengatakan, “Nikahkanlah aku dengan putrimu.”

Julaibib pun pergi dengan gembira ke rumah laki-laki Anshar tersebut dan mengetuk pintu rumahnya. Orang yang di dalam rumah bertanya, “Siapa?”

“Saya Julaibib.”

“Julaibib yang mana engkau? Kami tidak mengenalmu.”

Laki-laki Anshar itu lalu keluar rumah dan bertanya,

“Apa yang engkau inginkan? Datang darimana? Ada keperluan apa?”

“Rasulullah mengucapkan salam kepadamu….” Jawab Julaibib.

Sebelum Julabib selesai, laki-laki Anshar itu terperangah,

“Rasulullah menyampaikan salam kepada kami? Ini sungguh kehormatan bagi kami.”

Laki-laki Anshar itu segera mengabarkan hal ini kepada keluarganya dengan penuh kegembiraan. Suka cita memenuhi rumah itu.

“Dengan salam itu, Rasulullah juga mengatakan kepada kalian agar kalian menikahkan putri kalian denganku.” Julaibib melanjutkan.

Tuan rumah itu sontak terkejut dengan pesan ini. Ia terdiam beberapa saat, berfikir dan bertanya-tanya pada dirinya, “Apakah laki-laki ini yang akan menjadi menantuku, ia bukan orang yang berharta, tidak rupawan, dan bukan berasal dari kabilah terhormat.” Namun ia segera sadar dan berkata kepada Julaibib, “Tunggu sebentar, aku akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan keluargaku.”

Sahabat ini lalu masuk ke rumahnya membawa pesan tersebut. Ia memanggil istrinya dan menyampaikan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lisan agar menikahkan putrinya dengan Julaibib. Putri sepasang suami istri ini ternyata mendengar pembicaraan keduanya dari kamar sebelah yang terhalang tirai.

Sang istri berkata, “Bagaimana kita menikahkannya dengan Julaibib? Kita menyerahkan putri kita kepada orang yang tidak rupawan, tidak berharta dan bukan berasal dari kabilah terhormat. Padahal kita telah sering menolak lamaran kabilah ini dan itu ketika mereka meminang untuk menikahinya.”

Begitulah percakapan yang terjadi antara sepasang suami istri tersebut. Sang putri juga ternyata mendengar percakapan dan mengetahui apa yang telah terjadi di belakang tirai.

Saat Julaibib berfikir untuk pulang dengan rasa putus asa permintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan dikabulkan, sikap sang putri ternyata sangat mencengangkan. Ia berkata kepada kedua orang tuanya dengan sedikit malu dan suara rendah, “Apakah Anda akan menolak perintah Rasulullah?”

Kita semua yang membaca dan mendengar kisah ini sangat layak memberikan apresiasi seribu kali kepada anak wanita ini. Dengan pikirannya yang jernih dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata kepada kedua orang tuanya, “Serahkanlah aku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beliau nikahkan aku dengan siapa saja yang beliau kehendaki, karena sesungguhnya ia tidak akan menelantarkanku.”

Akhirnya, kedua orang tuanya menyetujuinya. Saat mereka menyadari bahwa jika mereka berdua menolak pernikahan ini berarti mereka menolak perintah Allah dan Rasul-Nya, seorang bapak dan ibu ini pun menerima pemikiran, kecerdasan dan keputusan putri mereka.

Julaibib kembali dengan hati tenang dan gembira setelah menyampaikan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak lama kemudian ayah wanita cerdas tersebut datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, telah sampai kepadaku pesanmu, maka aku mendengar dan taat. Aku ridha dengan perintah dan keputusanmu. Putriku dan seluruh keluargaku juga ridha dan gembira dengan keputusanmu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penyayang dan belas kasih mengetahui perasaan wanita ini dan penerimaannya yang dibangun diatas sikap mendengar dan taat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya hadiah yang sangat besar. Beliau mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, “Ya Allah karuniakan kepada mereka berdua kebaikan yang banyak, janganlah engkau jadikan kesulitan bagi kehidupan mereka berdua.”[1]

Julaibib akhirnya menikahi wanita tersebut, membangun rumah tangga baru bersamanya di Madinah. Julaibib yang tadinya miskin, seiring berjalannya waktu terbuka untuknya pintu-pintu rizki dengan sebab keberkahan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuknya tadi. Hingga keluarga ini pun dipenuhi dengan kebaikan dan keberkahan. Kondisi ekonomi mereka kian baik, dengan sebab ketaatan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga mereka menjadi salah satu keluarga Anshar yang berkecukupan dan berharta.[2]

Pembaca yang budiman, begitulah perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya dan hubungan beliau bersama mereka. Beliau sungguh sosok yang berakhlak tinggi, sebagaimana yang Allah sifatkan dalam Al Qur`an Al Karim, “Dan sungguh engkau berada diatas akhlak yang agung.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memperhatikan urusan sahabatnya walau bagaimana pun kedudukannya. Doa beliau kepada wanita ini telah menjadi hadiah yang sangat berharga, mahkota yang indah, yang didapatkannya dengan sebab pernikahannya bersama Julaibib. Ia mendapat kebaikan di dunia. Adapun kebaikan yang akan diraihnya di akhirat kelak, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Semua itu adalah balasan atas ketaatannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

____________

[1] Mawaaridu Adz Dzam`aan: 2269, Ahmad: 4/425, Majma’ Az Zawaa`id: 9/370

[2] Musnad Ahmad: 4/422, no: 19799

[Dinukil dari Mi`atu Qishshah min Akhlaq Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info