Back to top

Mutiara Salaf (Bagian 2)

363510757_caf61d52cd_bBerikut ini kumpulan Mutiara Salaf bagian kedua yang dikumpulkan dari status-status Facebook Al Ustadz Alee Massaid, Lc hafizdahullah.

Untuk Apa Engkau Mencari Ilmu?

Siapa mencari ilmu untuk diamalkan, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk mengamalkannya. Siapa yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, akan bertambah sombong dengan ilmunya

[Malik bin Dīnār (w. 130 H)]

 

Pendapat Yang Lebih Longgar

Tidaklah aku dapati dua orang alim, melainkan yang lebih longgar pendapatnya adalah yang lebih faqih di antara keduanya.

[Yahyā bin Abī Katsīr (w. 129 H)]

 

Sosok Yang Dirindukan

Sewaktu Ali bin al-Husain (w. 94 H) meninggal dunia dan dimandikan, orang-orang yang memandikannya melihat bekas hitam di pundak beliau. Mereka bertanya, “Tanda apa ini?” Lalu dikatakan, “Di masa hidupnya beliau sering memanggul karung berisi tepung di atas pundaknya di malam hari untuk dibagikan kepada penduduk fakir di kota Madinah.”

 

Orang Munafik dan Al Qur`an

Memindahkan bongkahan batu lebih ringan bagi orang munafik dari membaca Alquran

[Aus bin Abdillāh Abu al-Jauzā’ (w. 83 H)]

 

Bersama Para Sahabat Rasul (shallallāhu ‘alaihi wa sallam)

Suatu ketika dikatakan kepada Ibnu al-Mubārak (w. 181 H), sebagaimana disebutkan oleh al-Khathīb al-Bagdādi, “Wahai Abu Abdirrahmān! Mengapa Anda tidak keluar rumah dan duduk bersama teman-temanmu?” Beliau membalas, “Ketika berdiam di rumah, saya duduk bersama para sahabat Rasulullah Muhammad (shallallāhu ‘alaihi wa sallam).” Maksud beliau membaca kisah hidup mereka.

 

Kitab Suci: Teman Setia 

Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan al-raqīm di dalam kisah Ashāb al-Kahfi?

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan kami yang mengherankan? (QS. 18: 9)

Dalam satu pendapat Ibnu Abbas yang dicuplik oleh Ibnu Athiyyah (al-Muharrar al-Wajīz, 3/497), beliau berkata, “Al-Raqīm adalah kitab yang dibawa oleh mereka, di dalamnya terdapat ajaran syariat yang mereka anut.”

 

Garam Ummat

Para ulama seumpama garam; memberi kesempurnaan rasa pada setiap hidangan. Jika garamnya rusak, tak akan ada yang memperbaiknya. Sejatinya ia diinjak dengan kaki lalu dibuang.

[Yahyā bin Abī Katsīr (w. 129 H)]

 

Tips Bergaul Dengan Manusia

Hātim al-Ashamm (w. 237 H) seorang ikon asketisIsme (zuhud) di zamannya mengutip petuah Syaqīq al-Balkhi kepadanya, “Bergaullah dengan manusia seperti Engkau memperlakukan api; ambillah manfaatnya dan waspada, jangan sampai ia membakarmu.”

 

Asas Ilmu

Hātim al-Ashamm ditanya, “Apa yang menjadi asas ilmu Anda?” Beliau menjawab,

“Empat perkara: 

– Seluruh kewajiban agama yang tidak ditunaikan oleh selain diriku sendiri, maka aku selalu disibukkan dengannya. 

– Aku mengetahui bahwasanya rezekiku tak akan berpindah ke orang lain, maka aku pun yakin dengannya. 

– Aku yakin tak akan pernah sedikitpun lepas dari pengamatan Allah, maka aku pun merasa malu kepada-Nya.

– Aku yakin ajalku akan datang, maka aku pun mendahuluinya (dengan amal salih).”

 

Bukti Cinta

Di kesempatan lain Hātim al-Ashamm bertutur,

“Siapa mengklaim tiga hal tanpa dibuktikan dengan tiga hal maka ia adalah seorang pendusta!”

– Mengaku cinta kepada Allah tanpa menahan diri dari melanggar aturan-Nya maka ia pendusta.

– Mengklaim cinta Surga tanpa menginfakkan hartanya maka ia adalah pendusta.

– Mengaku cinta kepada Nabi Muhammad (shallallāhu ‘alaihi wa sallam) tapi tidak mencintai kaum fakir maka ia seorang pendusta.

 

Kebaikan Hati

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah jadikan dalam dirinya penegur dari nuraninya yang akan selalu memerintahnya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari keburukan).

[Muhammad bin Sīrīn (w. 110 H)]

 

Mendekat Kepada Allah

Khabbāb bin al-Aratt seorang sahabat Nabi (shallallāhu ‘alaihi wa sallam) berkata, “Mendekatlah kepada Allah semampumu! Ketahuilah, sungguh kamu tak akan mendekat kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih Dia cintai dari kalam-Nya (Alquran).”

 

Menjaga Shalat Lima Waktu

Siapa yang selalu menjaga shalat lima waktu berjamaah, berarti telah mengisi samudera dan daratan dengan ibadah.

[Said bin al-Musayyib (w. 84 H)]

 

Esensi Ibadah

Shālih bin Muhammad bin Zāidah bercerita tentang sekelompok pemuda Bani Laits yang gemar beribadah. Mereka terbiasa pergi ke mesjid di waktu Zhuhur dan terus-menerus melakukan shalat hingga ditunaikan shalat Ashar. Lalu Shālih bertanya kepada Said bin al-Musayyib, “Ibadah seperti apa yang kita sanggupi sebagaimana dilakukan oleh para pemuda Bani Laits?” “Itu bukanlah ibadah sebenar-benarnya. Esensi ibadah yang sesungguhnya adalah bertafaqquh dalam urusan agama dan bertafakur tentang ciptaan Allah Ta’ālā,” jawab Said.

 

Berbicara Dengan Kebodohan

Al-Qāsim bin Muhammad (w. 108 H) salah seorang fuqaha Madinah yang tujuh, ketika ditanya, sering tidak mengetahui jawaban dari soal-soal yang ditanyakan. Seandainya beliau mengetahuinya, pastilah tak akan disembunyikan. Pada satu kesempatan beliau berkata, “Kami tidak mengetahui jawaban atas soal-soal yang disodorkan kepada kami. Demi Allah, sekiranya seorang hidup dalam keadaan bodoh setelah ia mengetahui hak-hak Allah atas dirinya, itu lebih baik daripada ia berbicara tentang apa-apa yang tidak diketahuinya.”

 

Tidak Ingin Memuji Diri Sendiri

Seorang Arab badui, sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Ishāq, mendatangi al-Qāsim bin Muhammad lantas bertanya, “Anda atau Sālim yang lebih alim?” Al-Qāsim hanya menjawab, “Rumah Sālim di sebelah sana.” Setelah itu si Arab badui pun pergi.

Menurut penafsiran Muhammad bin Ishāq, al-Qāsim tidak suka mengatakan, Salim lebih alim dari dirinya sehingga bisa jatuh dalam dusta, atau mengatakan, Saya lebih alim dari Sālim, sehingga memuji diri sendiri.

 

Asa

Aku berbaring di malam hari di atas ranjang, lalu mentadaburi Alquran. Saat mencocokkan amalanku dengan amalan penghuni Syurga, ternyata bekal amalan mereka begitu berat:

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (QS. 51:17)

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. 25:64)

Aku tidak menemukan diriku bersama mereka. Lantas aku cocokkan diriku dengan ayat berikut:

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” (QS. 74:42)

Aku melihat mereka yang disebut dalam ayat adalah kaum yang mendustakan para rasul (tidak beriman). Selanjutnya aku melewati ayat berikut:

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 9:102)

Maka aku pun berharap diriku dan kamu semua, Wahai Teman-teman, termasuk dari mereka.

[Mutharrif bin Abdillāh (w. 87 H)]

 

Adab

Kami dulu senantiasa mendatangi orang alim. Adab yang kami pelajari darinya lebih kami cintai dari ilmunya.

[Muhammad bin Muslim al-Zuhri (w. 124 H)]

 

Wasiat Imam Syafii

Tidaklah halal bagi siapapun untuk berfatwa dalam agama Allah melainkan:

Seorang yang arif dalam kajian Kitab Suci Alquran: nāsikh dan mansūkhnya, muhkam dan mutasyābih, takwil dan tanzīl, makki dan madani, apa yang dimaksud olehnya, pula di mana diturunkan. Selanjutnya ia juga mumpuni di bidang hadis, memahami nāsikh dan mansūkhnya, memahami kajian ilmu hadis sebagaimana pemahamannya dalam kajian ilmu-ilmu Alquran. Juga memiliki kompetensi di bidang bahasa, memahami syair dan seluruh perangkat kebahasaan yang dibutuhkan dalam kajian ilmu dan Alquran. Bersamaan dengan semua yang telah disebutkan tadi, ia juga selalu bersikap adil-objektif, sedikit berbicara, juga berwawasan seputar silang pendapat para ulama terkemuka, selain tentunya ia pun memiliki kecerdasan akal.

Jika ini semua telah wujud, maka ia berhak berbicara dan berfatwa seputar halal dan haram. Jika belum semua kriterianya dipenuhi, ia hanya berhak berbicara namun tidak laik berfatwa.

[Al-Khathīb al-Bagdādi, al-Faqīh wa al-Mutafaqqih, (2/331/1038).]

 

Keramat

Mutharrif yang telah lalu kisah tadaburnya pernah berjalan bersama seorang temannya di malam gelap gulita. Tiba-tiba tongkat salah seorang mereka memancarkan cahaya. Temannya berkata, “Jika kau kabarkan pada orang-orang tentang apa yang tengah terjadi, tentu mereka akan mendustakan kita.” Mutharrif merespons, “Yang mendustakan lebih pendusta.”

 

Yang Berhak Memberi Fatwa

Hanya tiga golongan yang memberikan fatwa kepada umat manusia:

– Seorang yang mengerti ilmu nāsikh dan mansūkh dari Alquran

– Seorang amir (pimpinan) yang tidak bisa menolak (ketika ditanya)

– Seorang pongah yang memaksakan diri berfatwa

[Hudzaifah bin al-Yamān]

 

Akal Sehat

Manusia di zaman Jahiliyah mengikuti apa saja yang dianggap baik oleh akal dan perasaan. Kemudian oleh Nabi Muhammad (shallallāhu ‘alaihi wa sallam) mereka diarahkan untuk mengikuti ajaran syariat Islam. Maka sejak itu, akal yang sehat adalah yang menganggap baik apa-apa saja yang dinilai baik oleh syariat Islam dan menganggap buruk apa yang di dalam syariat Islam dinilai buruk.

[Abu ‘Amr al-Zajjāji (w. 348 H)]

 

Diet Spiritual

Abu ‘Amr al-Zajjāji (w. 348 H) ditanya tentang diet. Beliau menjawab, “Diet hati adalah dengan memperbaiki keikhlasan dan menjaga konsistensinya. Diet jiwa adalah dengan meninggalkan dan menjauhkan diri dari klaim palsu.”

 

Waktu

Waktu adalah milik Allah sepenuhnya. Waktu terbaik adalah waktu di mana Allah memudahkanku melakukan apa saja yang akan menjadikan-Nya ridha kepadaku.

[Ibnu al-A’rābī Ahmad bin Muhammad bin Ziyād (w. 341 H)]

 

Tawadhu di Hadapan Sang Ibu

Muhammad bin Sīrīn, seperti dikisahkan oleh Ibnu ‘Aun, kala berada di dekat ibundanya, jika seorang yang tidak mengenalnya melihatnya, akan mengira beliau sedang sakit karena suaranya amat pelan di hadapan Sang Ibunda.

Seorang lalim yang berbakti kepada kedua orang tua diharapkan dapat masuk Surga, sedangkan seorang ahli ibadah yang durhaka terhadap keduanya dikhawatirkan akan masuk Neraka.

[Yūnus bin ‘Ubaid (w. 139 H)]

 

Bakti Kepada Ibu

Tak ada yang menghalangi Uwais al-Qarani yang hidup semasa dengan Rasūlullāh (shallallāhu ‘alaihi wa sallam) untuk menemui Beliau, melainkan baktinya kepada Sang Ibunda.

[Siyar A’lām al-Nubalā, 4/29.]

 

Kerendahan Hati

Seorang berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, “Semoga Allah memberi balasan kebaikan atas jasamu terhadap Islam.” Umar membalas, “Justru sebaliknya, semoga Allah memberikan Islam ganjaran kebaikan atas diriku.”

Imam Ahmad bin Hanbal juga ketika seorang memujinya seraya berkata, “Jazākallāhu ‘an al-Islāmi khairan!” (Semoga Allah memberi balasan kebaikan atas jasamu terhadap Islam) membalas,

“Justru sebaliknya, semoga Allah memberikan Islam ganjaran kebaikan atas diriku. Siapa dan apa sih saya?”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info