Back to top

Mutiara Salaf (Bagian 1)

rw

Berikut ini adalah sejumlah mutiasa Salaf yang kami kumpulkan dari tulisan-tulisan Al Ustadz Alee Massaid, Lc dalam laman Facebooknya:

Kunci

 Al-Hasan al-Bashri berkata:

Kunci samudera adalah bahtera

Kunci bumi adalah jalan

Kunci langit adalah doa

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, sebagaimana dikutip al-Suyuti dalam al-Durr al-Mantsur, 2/261.]

 

Umar bin al-Khatthab dan Pluralisme Agama

Abu Imran al-Jaunī bercerita bahwa Umar pernah melewati seorang rahib lantas beliau menghentikan langkahnya. Kemudian rahib tadi dipanggil dan dikatakan padanya, Ini adalah Amirul Mukminin. Si Rahib pun menampakkan dirinya; sosok yang tampak letih karena kesungguhan beribadah dan berzuhud di dunia. Umar pun menangis saat melihatnya. Ketika diberitahu bahwa ia adalah seorang rahib nasrani, Umar menjawab, “Aku telah mengetahuinya. Aku menyayangkannya dan langsung teringat firman Allah, “Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS. Al-Ghasyiyah: 3-4). Yang aku sayangkan adalah kepayahan dan kesungguhannya dalam beribadah sedangkan ia akan masuk ke dalam neraka.”

[Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Ibnu al-Mundzir dan al-Hākim, sebagaimana dalam al-Durr al-Mantsur (15/382).]

 

Dakwah Tersingkat

Dhimād bin Tsa’labah seorang berasal dari kabilah Azd Syanū’ah yang di masa Jahiliyah berprofesi sebagai praktisi ruqyah mendengar dari warga pandir kota Mekkah tentang seorang yang katanya mengalami gangguan jiwa akibat pengaruh jin. Ya, orang yang dimaksud tak lain adalah Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam), sebagaimana dikisahkan oleh Imam Muslim dalam Sahih-nya (no: 868).

Singkat cerita, Dhimad pun menemui Beliau dan langsung menawarkan jasa ruqyah yang diyakininya selalu mujarab. Sang Nabi pun membacakan kepadanya, “Innal hamda lillāh, nahmaduhu wa nasta’īnuhu, man yahdillāhu falā mudhilla lahu waman yudhlil falā hādiya lah.” (Sesungguhnya segala puja-puji hanya milik Allah, kami memuji dan memohon pertolongan kepada-Nya, siapa saja yang Allah beri petunjuk tak akan ada yang dapat menyesatkannya, siapa yang Dia sesatkan tak akan ada yang dapat memberinya hidayah). Sontak Dhimad pun kaget mendengar kalimat-kalimat tersebut dan memohon diperdengarkan lagi. Nabi pun mengulanginya sebanyak 3 kali.

“Aku telah mendengar mantra para penyihir dan syair para pujangga, namun belum pernah aku mendengar yang semisal itu,” cetus Dhimad. “Keindahan kalimat-kalimat tadi sungguh seakan telah melintasi samudera nan luas,” lanjutnya.

Tak berselang lama Dhimad pun berbaiat kepada Sang Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai Muslim. Bahkan seluruh kaumnya ikut bersamanya memeluk Islam.

 

Ingat Malaikat

Katsir bin al-Walid berkata, “Setiap kali memandang wajah Ibnu Syaudzab, aku langsung teringat malaikat.”

[Siyar A’lām al-Nubalā’, 7/93.]

 

Bicara Adalah Fitnah

Suatu hari Umar bin Abdul Aziz Sang Khalifah Adil berkhutbah hingga membuat seluruh jamaah yang menyimaknya terharu dan menangis. Kemudian beliau pun menghentikan khutbahnya. Mereka berkata, Wahai Khalifah, Seandainya Engkau rampungkan khutbahmu, semoga Allah memberikan manfaat bagi kami semua dengannya. Beliau menjawab, Berbicara adalah fitnah (cobaan), sedangkan melakukan kerja nyata adalah lebih baik bagi seorang Mukmin daripada (sekedar) berbicara.

[Dihikayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Jāmi’ al-Ulūm wa al-Hikam.]

 

Agar Amal Ibadah Menjadi Sempurna

Abu Abdillāh al-Nibājī al-Zāhid berkata, “Ada lima perkara yang menjadikan amal ibadah sempurna:

  1. Beriman kepada Allah dengan makrifat Allah ‘Azza wa Jalla
  2. Memahami kebenaran
  3. Mengikhlaskan amal hanya untuk Allah
  4. Beramal sesuai Sunnah
  5. Mengonsumsi makanan halal

Jika satu dari lima perkara tersebut tak wujud, amal salih tak akan diterima. Sebab jika kamu mengenal Allah ‘Azza wa Jalla tanpa mengetahui kebenaran, kamu tak akan mendapat manfaat. Begitu pula sebaliknya. Jika kamu mengenal Allah dan mengetahui kebenaran namun tidak ikhlas dalam beramal pun tak akan mendapatkan manfaat. Pula, jika kamu mengenal Allah, mengetahui kebenaran dan beramal dengan ikhlas tanpa diasaskan di atas Sunnah, kamu tak akan mendapat manfaat. Dan jika keempat perkara telah kau miliki tapi makananmu tidak halal, kamu pun tak akan mendapatkan manfaat.

[Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Hikam]

 

Doa

Jangan pernah meninggalkan doa. Jangan sampai apa yang kau ketahui tentang ihwal dirimu menjadi penghalang dari berdoa. Iblis saja telah Allah ijabat doanya.

[Sufyān bin ‘Uyainah, Diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Īmān]

 

Sadar Kapasitas Diri

Malik bin Anas bercerita, “Ada seorang amir kota Madinah mendatangi al-Qasim bin Muhammad (w. 108 H) kemudian bertanya tentang suatu permasalahan, lantas al-Qasim menjawabnya, “Termasuk bentuk penghargaan seorang terhadap dirinya sendiri adalah tidak berbicara melainkan tentang apa yang telah ia perdalam ilmunya.”

Al-Qasim yang dimaksud pada kisah tersebut adalah cucu Abu Bakar al-Shiddīq. Dalam biografinya beliau menuai begitu banyak pujian dari para tokoh ulama dan terhitung sebagai salah satu ulama besar sepanjang masa hingga Ibnu Sīrīn pernah menitah siapa saja yang pergi berhaji agar memperhatikan sikap dan perilaku beliau lantas meneladaninya.

 

Mau Rumah Luas? 

Ibnu Sīrīn (w. 110 H) pernah berujar, “Rumah yang di dalamnya terdengar merdu lantunan Kitab Suci Alquran senantiasa didatangi oleh Malaikat, dijauhi Setan, dirasa luas oleh penghuninya dan banyak sekali kebaikannya. Sebaliknya, rumah yang sunyi dari bacaan Alquran akan terus disambangi Setan, dijauhi oleh Malaikat, penghuninya merasa terhimpit di dalamnya, pun kebaikannya amat sedikit.”

[Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 10/486.]

 

Cinta Al Qur`an

Ibnu Mas’ud berkata, “Siapa yang mencintai Alquran berarti ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

[Ibnu Rajab, Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Hikam, hlm. 680.]

 

Bagaimana Rukuk dan Sujud Anda?

Hudzaifah bin al-Yamān pernah melihat seorang yang shalat tanpa menyempurnakan rukuk dan sujud. Lalu, setelah orang itu merampungkan shalatnya, Hudzaifah berkata kepadanya, “Kamu belum shalat! Seandainya meninggal dunia, niscaya kamu tidaklah diwafatkan di atas Sunnah Muhammad (shallallāhu ‘alaihi wasallam).”

[Al-Bukhāri, al-Jāmi’ al-Shahīh, no. 389.]

 

Amalan Paling Utama

Umar bin al-Khatthāb berkata, “Amal paling utama adalah menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah, menahan diri dari semua yang diharamkan Allah, dan kejujuran niat mengharapkan apa yang ada di sisi Allah Subhānahu wa Ta’ālā.”

[Ibnu Rajab, Jāmi’ al-Ulūm wa al-Hikam.]

 

Seutama Ibadah

Umar bin Abdil Aziz dalam khutbahnya bertutur, “Seutama ibadah adalah menunaikan seluruh kewajiban, menjauhi semua larangan. Hal itu karena Allah semata mewajibkan seluruh kewajiban atas hamba-hamba-Nya agar mendekatkan mereka kepada diri-Nya dan agar mereka meraih rahmat dan keridhaan-Nya.”

[Ibnu Rajab, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam.]

 

Sang Pemersatu

Rabī seorang murid Imam Syafii pernah bertanya kepada Sang Guru tentang ihwal penduduk negeri Mesir. Imam Syafii menjawab, “Mereka terbagi menjadi dua kelompok, salah satunya condong kepada pandangan keagamaan Imam Malik dan selalu berusaha mengukuhkan loyalitas mereka kepadanya. Kelompok lainnya condong kepada pandangan dan sikap keagamaan Imam Abu Hanifah dan juga melakukan hal serupa.”

Syafii melanjutkan, “Aku berharap, jika kelak mendatangi negeri Mesir, in syā Allah, akan membawa sesuatu yang dengannya aku palingkan penduduk Mesir dari kedua pandangan tadi.”

Kemudian Rabī’ berkata, “Dan beliau benar-benar, demi Allah, membuktikan ucapannya sewaktu memasuki Mesir.”

[Tawālī al-Ta’sīs, hlm. 152.]

 

Imam Syafi’i Rahimahullāh dan Al Qur`an 

Rabī’ murid Imam Syafii bercerita, “Aku bertolak bersama Syafii dari Fusthāth (Cairo) menuju Alexandria dalam rangka ribāth (mengamankan kawasan). Syafii selalu menunaikan shalat lima waktu di mesjid jāmi’ kemudian mendatangi pos jaga, lantas memandang laut sambil duduk membaca Kitab Suci Alquran, hingga aku hitung dalam sehari semalam beliau selalu mengkhatamkannya 60 kali di bulan Ramadan.”

[Ibnu Hajar al-‘Asqalāni, Tawālī al-Ta’sīs, hl. 156.]

 

Akal Imam Syafi’i Rahimahullāh

Muhammad bin Ishāq bin Rāhawaih bertanya pada ayahnya, “Bagaimana seorang Syafii bisa menulis karya sebanyak ini sedangkan usia beliau tak panjang?” Sang Ayah yang juga murid Imam Syafii, menjawab, “Allah mempercepat bagi beliau akalnya karena usianya yang pendek.”

[Tawālī al-Ta’sīs, hl. 156.]

 

Keterbatasan Akal

Akal memiliki batas jangkauan sebagaimana pandangan mempunyai batasan yang tak dapat dilampauinya.

[Muhammad bin Idrīs al-Syāfi’i]

 

Rukun Muru`ah

Empat rukun muru`ah:

  1. Akhlak baik
  2. Derma
  3. Tawaduk
  4. Syukur

[Muhammad bin Idrīs al-Syāfi’i]

 

Imam Bukhāri

Ibrāhīm bin Ma’qil al-Nasafi berkata, “Abu Abdillāh al-Bukhāri bercerita, “Kami sedang bersama Ishāq bin Rāhawaih, lalu beliau berkata, “Alangkah baik jika kalian mengkompilasi sebuah kitab ringkas yang merangkum Sunnah Rasūlullāh (shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Lantas terbesit dalam benakku untuk melakukannya, dan aku pun mulai menyusun al-Jāmi’ al-Shahīh.”

Atas jasa beliau kepada umat Islam, Muhammad bin Abī Hātim al-Warrāq bercerita, “Aku melihat Muhammad bin Ismāīl al-Bukhāri dalam mimpi berjalan di belakang Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Setiap kali Nabi Muhammad mengangkat kaki Beliau, al-Bukhāri memijakkan kakinya di tempat tadi.” Mimpi serupa juga pernah dialami oleh seorang salih lain, yakni Najm bin Fudhail.

 

Semua Hari Sama

Ya. Jelas dari judul di atas, tidak ada hari sial atau pantang untuk melakukan suatu aktivitas positif.

Imam Dār al-Hijrah Mālik bin Anas pernah ditanya tentang berbekam di hari Sabtu dan Rabu. Beliau menjawab, “Tidak mengapa. Saya berbekam di semua hari dan tidak memakruhkan satu hari pun, baik untuk bekam, meminyaki rambut, akad nikah, safar, ataupun kegiatan lainnya.”

 

Manusia Terbaik

Utsman bin Affan (radhiyallahu ‘anhu) yang meriwayatkan dari Rasulullah, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya,” pada kesempatan lain juga mengatakan, “Seandainya hati kalian benar-benar bersih, tentunya kalian tak akan pernah puas dari (membaca dan mentadaburi) kalam Allah.”

Abu Bakar al-Shiddīq manusia terbaik umat ini setelah Nabinya (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah meminta diajari sebuah doa untuk dipanjatkannya di saat shalat. Maka Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam), sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, mengajarinya doa berikut:

“Ya Allah! Sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak (dalam salah satu redaksi: yang besar). Tak ada yang mengampuni dosa melainkan Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Masih tentang Ayyūb

Beliau pernah berkata, “Kamu tidak akan pernah melihat kesalahan gurumu hingga kamu duduk belajar dari tuan guru lain. Duduk belajarlah dari para ulama.”

Hammād bin Zaid berkata, “Belum pernah aku melihat seorang yang lebih banyak melemparkan senyum di wajah orang lain dari Ayyub.”

Di antara doa Ayyūb: Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon pada-Mu iman, hakekatnya dan penjaganya. Dan aku memohon yang utama dari amal salih yang Engkau karuniakan padaku, dengannya kebaikan pahala-Mu diraih. Jadikan kami sebagai hamba yang selalu bertaqwa, takut, berharap dan selalu malu di hadapan-Mu. Ya Allah! Tutupilah kami dengan afiat-Mu.

 

Masih tentang Ayyub (2)

“Aku duduk belajar di hadapan al-Hasan al-Bashri selama empat tahun, namun tak sekalipun aku bertanya padanya karena menyeganinya.” Kata beliau.

Beliau juga berkata, “Di kala mendengar kabar wafatnya seseorang dari Ahlussunnah, aku pun serasa kehilangan sebagian anggota badanku.”

“Tidaklah seorang pelaku bidah semamin bersusah payah (dalam bidahnya) melainkan ia akan semakin jauh dari Allah.”

Kata beliau juga, “Lazimkan terus pasarmu (usahamu)! Sungguh Anda akan tetap mulia di mata saudara-saudaramu selama tidak meminta-minta kepada mereka.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info