Back to top

Benarkah Ucapan “Manusia adalah Khalifah Allah di Muka Bumi.” (?)

002Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir al Barrak hafidzahullah

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasul Allah. Amma ba’du:

Sebagian orang mengatakan, sesungguhnya manusia adalah khalifah Allah di muka bumi, atau yang semacam itu. Perkataan ini diambil oleh sebagian orang dari firman Allah, “Sesungguhnya aku menjadikan di muka bumi khalifah.” (QS. Al Baqarah [2]: 30) ini tentu pemahaman yang keliru terhadap ayat ini. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah, Allah azza wa jalla menjadikan makhluk yang sebagian mereka menjadi pengganti bagi sebagian yang lain di muka bumi. Artinya, setiap generasi dari manusia menjadi pengganti (khalifah) bagi generasi yang sebelumnya. Ada juga yang mengatakan, bahwa manusia adalah generasi pengganti bagi kehidupan sebelumnya di muka bumi, sebelum Nabi Adam ‘alaihissalam. Wallahu a’lam.

Khalifah secara bahasa adalah, yang mengganti selainnya yang telah tiada atau mati. Makna ini tentu saja tidak layak disandarkan kepada Allah. Karena Allah tetap hidup dan tidak akan mati, tetap menyaksikan dan tidak alpa. Yang benar, Allah justru menjadi khalifah bagi orang yang mati untuk keluarganya. Seperti yang disebutkan dalam hadis doa perjalanan,

اللَّهُمَّ أنْتَ الصَّاحِبُ في السَّفَرِ، والخَلِيفَةُ في الأهْلِ

“Ya Allah, engkau adalah teman dalam perjalanan, dan pengganti (khalifah) bagi keluarga.” (HR Muslim)

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Abu Salamah tatkala ia meninggal dunia,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ، وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ افْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di tengah orang-orang yang mendapatkan hidayah, gantikanlah sepeninggalnya untuk orang-orang yang ia tinggalkan, ampunilah kami dan dia ya Rabbal ‘aalamiin, luaskanlah kuburannya dan terangilah dia padanya.” 

Dalam hadis Dajjal, “Jika ia keluar dan aku masih bersama kalian, maka aku akan menjadi pembela kalian, namun jika ia keluar dan aku sudah tidak bersama kalian, maka seseorang menjadi pembela dirinya, dan Allah menjadi Khalifahku atas setiap muslim.” (HR Muslim)

Intinya, jika dikatakan fulan adalah Khalifah Allah dan yang dimaksud adalah Khalifah ‘an Allah (pengganti daripada Allah), maka tidak boleh. Namun tidak apa-apa jika yang dimaksud adalah idhafah tasyrif (penisbatan dalam rangka memuliakan), yang bermakna  dijadikan pemimpin oleh Allah. Seperti firman Allah kepada Dawud (yang artinya), 

“Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil.” (QS. Shad [38]: 26)

Nabi Dawud ‘alaihissalam dijadikan pemimpin oleh Allah agar memberi keputusan diantara manusia dengan adil. Cocok dengan makna ini bahwa beliau adalah Khalifah Allah. Diantaranya juga perkataan Abu Tamam untuk Khalifah Mu’tashim,

خليفة الله جازى الله سعيك عن *** جرثومة الدين والإسلام والحسب

Wahai Khalifah Allah semoga Allah membalas upayamu

                        Untuk pokok agama, Islam dan kecukupan   

Dan perkataan Jarir kepada Umar bin Abdulaziz,

خليفة الله ماذا تأمرنّ بنا *** لسنا إليكم ولا في دار منتظر

Wahai Khalifah Allah, apa yang Anda perintahkan kepada kami

                        Kami tidak kembali kepada Anda dan tidak di negeri yang ditunggu

Begitu juga wasiat Ali radhiyallahu ‘anhu kepada Kamil bin Ziyad, “Wahai Kamil, mereka adalah para Khalifah Allah di muka bumi dan para penyeru kepada agama-Nya.”

Maka, nampaklah perbedaan antara perkataan fulan khalifah daripada Allah dan ini terlarang, dengan perkataan, Khalifah Allah, ia memiliki makna yang benar.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info