Back to top

Cara Menata Pikiran Menurut Ibnul Qayyim

ideaAda yang menarik ketika penulis membaca uraian Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya Ad Dâ wa Ad Dawâ tentang al Khathârât, atau pikiran-pikiran yang muncul dalam benak manusia, bagaimana seharusnya ia dikelola dengan benar. Berikut adalah beberapa kesimpulan dari pembahasan beliau:

Dari Pikiran, Lahir Keinginan dan Tekad

Pikiran dapat menjadi awal kebaikan, dapat pula menjadi awal keburukan. Dari lintasan-lintasan pikiran, akan lahir keinginan dan tekad. Siapa yang menjaga pikirannya, ia akan mampu mengendalikan dan menaklukkan hawa nafsunya. Namun, orang yang tidak mampu mengendalikan pikirannya, ia akan cenderung mudah dikalahkan oleh hawa nafsunya. Maka, lintasan pikiran tidak bisa dianggap remeh. Orang yang menganggapnya sebagai perkara remeh, pikiran-pikirannya itu akan membawa ia kepada kebinasaan.

Menjauhi Ilusi

Diantara yang seharusnya dilakukan untuk menjaga pikiran adalah, menjauhi pikiran-pikiran yang bersifat ilusi atau khayalan, yang jauh dari kenyataan. Seperti yang Allah gambarkan (artinya),

“Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An Nur [24]: 39)

Kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, “Manusia yang paling rendah semangatnya adalah orang yang suka mengkhayal. Khayalan merupakan modal orang-orang yang rugi, dagangan ahli batil dan makanan jiwa yang hampa. Kebiasaan ini berbahaya. Ia lahir dari kemalasan dan kelemahan. Dan selanjutnya, ia akan melahirkan sikap lalai dan penyesalan.”

Pokok Pikiran yang Benar

Pikiran yang benar terangkum dalam empat pokok:

1.  Pikiran-pikiran kepada hal-hal bermanfaat dalam urusan dunia

2.  Pikiran-pikiran kepada hal-hal yang dapat mencegah keburukan dalam urusan dunia

3.  Pikiran-pikiran kepada hal-hal yang bermanfaat dalam urusan akhirat

4.  Pikiran-pikiran kepada hal-hal yang mencegah keburukan akhirat.

Setiap hamba, seharusnya fokus memikirkan empat perkata diatas. Hal ini agar pekerjaan dan perbuatannya senantiasa produktif dan menghasilkan, baik untuk kemaslahatan dunia, atau untuk kemaslahatan akhirat.

Kaidah Besar dalam berfikir

Saat mendapati permasalahan-permasalahan rumit dan kompleks, pilihan-pilihan yang sulit, seorang hamba dituntut untuk berfikir matang. Dengan akal, pemahaman dan wawasannya, setiap hamba hendaknya berfikir agar ia sampai pada pilihan yang tepat.

Kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, “Acuan dalam bab ini adalah kaidah yang besar, yang kepadanya syariat dan takdir bermuara, penciptaan dan perintah kembali, yaitu: mendahulukan kemaslahatan yang lebih besar dan tinggi diantara dua kemaslahatan, walaupun dengan resiko kehilangan maslahat yang lebih rendah. Serta memilih kerusakan yang teringan, untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. Sehingga, terkadang diabaikan sebuah kemaslahatan, untuk mendapat kemaslahatan yang lebih besar dan dipilih sebuah kerusakan, untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.

Pikiran-pikiran orang berakal tidak akan keluar dari koridor tersebut, dan dengannyalah syariat datang, kemaslahatan dunia dan akhirat hanya akan terwujud dengannya.”

Sumber: Ad Daa` wa Ad Dawaa’, al Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info