Back to top

Kata Ibnul Qayyim, Pikirkanlah Lima Hal ini Untuk Akhiratmu (!)

akhiratBismillâh. Walhamdulillâh. Wash-shalâtu was Salâmu ‘alâ rasulillâh, wa ‘alâ âlihi shahbihi.

Sebetulnya, pembahasan ini satu rangkaian dengan penjelasan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tentang Menata Pikiran. Namun karena temanya yang cukup krusial dan butuh perhatian khusus, maka sengaja saya tulis dalam artikel terpisah.

Tujuan akhir seorang mukmin dan mukminah adalah Allah dan negeri akhirat. Maka, pikiran yang paling tinggi, paling penting dan paling bermanfaat adalah pikiran-pikiran yang berorientasi kepada Allah dan negeri akhirat. Ia ada lima macam:

Pertama: Memikirkan ayat-ayat Allah al munazzalah (yang Allah turunkan berupa wahyu) serta memahaminya. Karena untuk tujuan itulah Allah menurunkannya, bukan sekedar untuk dibaca. Membacanya hanyalah wasilah kepada tujuan yang utama; yaitu memahami dan tentu saja mengamalkannya.

Seorang salaf berkata, “Allah menurunkan al Qur`an untuk diamalkan, namun orang-orang menjadikan amalannya sekedar membacanya.”

Kedua: Memikirkan ayat-ayat Allah al masyhûdah (yang nampak berupa ciptaan-ciptaan Allah) dan mengambil ibrah darinya. Menjadikannya sebagai petunjuk untuk semakin mengenal nama, sifat, hikmah, kebaikan dan kemurahan Allah ta’ala. Allah mengistimewakan hamba-hamba-Nya dengan karakter selalu memikirkan ayat-ayatnya, mentadaburinya serta memahaminya. Dan, Allah mencela orang yang lalai darinya.

Ketiga: Memikirkan nikmat-nikmat-Nya atas seluruh makhluk, keluasan rahmat-Nya, ampunan dan kesantunan-Nya. Beragam nikmat telah dicurahkan oleh Allah. Memikirkannya adalah jalan untuk mensyukurinya.

Dengan sering memikirkan tiga hal diatas, akan muncul dalam hati:

  • Makrifah (pengenalan kepada Allah)
  • Mahabbah (cinta kepada-Nya)
  • Khauf (rasa takut kepada-Nya)
  • Rajâ (rasa harap kepada-Nya)

Keempat: Memikirkan aib-aib diri sendiri dan kekurangan-kekurangan dalam beramal. Memikirkan hal ini sangat bermanfaat. Ia adalah pintu menuju setiap kebaikan dan sangat besar dampaknya dalam menghancurkan nafsu ammarah bis sû` (yang memerintah kepada keburukan). Jika ia dapat dihancurkan, maka yang akan hidup dan berkuasa adalah nafsu muthma`innah (yang tenang dalam ketaatan). Hati menjadi hidup, berkuasa, dan senantiasa mengutus para tentaranya kepada hal-hal yang mendatangkan maslahat untuknya.

Kelima: Memikirkan waktu dan apa yang telah dilakukan padanya, serta fokus kepadanya. Seluruh kemaslahatan seorang hamba berasal dari waktunya. Jika ia mensia-siakan waktunya, maka ia akan kehilangan kemaslahan-kemaslahatannya. Dan jika telah ia sia-siakan, ia tidak akan dapat mendapatinya lagi.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku pernah bergaul dengan orang-orang tasawuf, dan aku tidak mendapat faedah dari mereka kecuali dua kalimat: Pertama: waktu laksana pedang, jika engkau tak pandai menggunakannya, maka ia akan menebas dirimu. Kedua: jika kau tak sibukkan jiwamu dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.”

Waktu manusia adalah umurnya yang hakiki. Ia adalah modal untuk kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan yang abadi pula. Atau, sumber kehidupannya yang sempit dalam azab yang pedih. Waktu berjalan secepat awan. Waktu yang ia gunakan untuk Allah dan dengan Allah, maka itu lah kehidupan dan umurnya yang hakiki. Adapun yang selain itu, bukan termasuk kehidupannya. Ia hidup di dalamnya seperti binatang ternak.

Jika seorang hamba menghabiskan waktunya dalam kelalaian, syahwat, angan-angan yang kosong  –yang lebih baiknya adalah tidur dan menganggur— maka, mati lebih baik untuknya.

Sumber: Ad Daa` wa Ad Dawaa`, Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah rahimahullah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info