Back to top

Menyoal Klasifikasi Bid’ah

gubuk-sawahPembagian bid’ah kepada dua atau lima memang diantara pendapat para ulama muktabar yang tidak mungkin kita ingkari keberadaannya. Madzhab syafi’iyyah dalam hal ini secara khusus memiliki keunikan tersendiri dari madzhab para ulama yang lain.

قال الحافظ أبو نعيم في كتابه حلية الأولياء ج 9 ص76 :

حرملة بن يحيى، قال: سمعت محمد بن إدريس الشافعي يقول: البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم، واحتج بقول عمر بن الخطاب في قيام رمضان: نعمت البدعة هي” اهـ

 

Al Hafidz Abu Nu’aim berkata dalam kitabnya Hilyah Al Auliyaa`: 9/76

Harmalah bin Yahya berkata, aku mendengar Muhammad bin Idris al Syafi’I berkata, “Bid’ah terbagi dua; bid’ah terpuji (mahmudah) dan bid’ah tercela (madzmumah). Yang menyepakati sunnah maka ia terpuji dan yang menyelisihi sunnah adalah tercela. Beliau berhujjah dengan perkataan Umar bin al Khathtab dalam masalah shalat Ramadhan (tarawih), “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata

وكل ما لم يكن في زمنه- صلى الله عليه وسلم –  يسمى بدعة، لكن منها ما يكون حسنا ومنها ما يكون بخلاف ذلك

“Setiap hal yang tidak terdapat di zaman beliau, maka ia disebut bid’ah, akan tetapi ada yang baik dan ada yang tidak.”

Namun apakah perbedaan pendapat antara yang mengatakan bid’ah dibagi dua atau lima dengan yang tidak membaginya demikian merupakan perbedaan pendapat yang hakiki (khilaf haqiqy) atau hanya sekedar lafadz (Khilaf lafdzi) yang berujung pada kesepakatan? Apa yang dimaksud bid’ah hasanah bagi para ulama yang mengatakannya?

Imam Nawawi berkata,

قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَكُلّ بِدْعَة ضَلَالَة )

هَذَا عَامّ مَخْصُوص ، وَالْمُرَاد غَالِب الْبِدَع . قَالَ أَهْل اللُّغَة : هِيَ كُلّ شَيْء عُمِلَ عَلَى غَيْر مِثَال سَابِق . قَالَ الْعُلَمَاء : الْبِدْعَة خَمْسَة أَقْسَام : وَاجِبَة ، وَمَنْدُوبَة وَمُحَرَّمَة ، وَمَكْرُوهَة ، وَمُبَاحَة . فَمِنْ الْوَاجِبَة : نَظْم أَدِلَّة الْمُتَكَلِّمِينَ لِلرَّدِّ عَلَى الْمَلَاحِدَة وَالْمُبْتَدِعِينَ وَشِبْه ذَلِكَ . وَمِنْ الْمَنْدُوبَة : تَصْنِيف كُتُب الْعِلْم ، وَبِنَاء الْمَدَارِس وَالرُّبُط وَغَيْر ذَلِكَ . وَمِنْ الْمُبَاح : التَّبَسُّط فِي أَلْوَان الْأَطْعِمَة وَغَيْر ذَلِكَ . وَالْحَرَام وَالْمَكْرُوه ظَاهِرَانِ

Sabda Nabi “Setiap bid’ah adalah sesat.” Ini adalah hadis umum yang ada pengkhususan, yang dimaksud adalah kebanyakan bid’ah. Menurut ahli bahasa, ia adalah segala sesuatu yang dikerjakan tanpa ada contoh sebelumnya. Para ulama mengatakan, bid’ah ada lima bagian: wajib, mandub (sunnah), haram, makruh dan mubah. Diantara yang wajib adalah penyusunan argumentasi ahli kalam untuk membantah para penganut atheisme dan ahli bid’ah atau yang serupa dengan mereka. Diantara yang mandub adalah menulis buku-buku ilmu, membangun sekolahan, rubath dan yang lainnya. Diantara yang mubah adalah meluaskan macam-macam makanan dan yang lainnya. Adapun yang haram dan makrum kedua jelas.” (Syarh Nawawi: 6/154, 155, Dar Ihya al Turats)

Jika kita teliti perkataan para ulama yang membagi bid’ah dengan pembagian diatas maka kita akan menemukan bahwa yang mereka maksud adalah bid’ah dari dua sudut pandang: syar’iyyah (syariat) dan lughawiyyah (bahasa).

Ibnu Rajab dalam Jami’ Ulum wal Hikam (hal. 267) dalam menjelaskan perkataan Imam Syafi’I berkata, “Maksud dari Asy Syafi’I radhiyallahu ‘anhu adalah apa telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa pokok dari bid’ah madzmumah (tercela) adalah yang tidak memiliki landasan dalam syari’at, dan ini adalah bid’ah secara syariat. Adapun bid’ah mahmuudah (terpuji) adalah yang sesuai dengan sunnah, artinya, yang memiliki landasan dari sunnah. Ia adalah bid’ah secara bahasa, bukan syariat, karena ia menyepakati sunnah.”

Ibnu Hajar, yang juga membagi bid’ah menjadi dua mengatakan dalam bab Al Iqtidaa` bi Sunan Rasululillah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

المحدثات بفتح الدال جمع محدثة والمراد بها ما أحدث وليس له أصل في الشرع ويسمى في عرف الشرع بدعة وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة فالبدعة في عرف الشرع مذمومة بخلاف اللغة فان كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أو مذموما

Dan “al muhdatsaat” dengan memfatahkan ad daal adalah bentuk jamak dari muhdatsah. Maknanya adalah sesuatu yang diadakan, tidak memiliki landasan dalam agama dan dinamakan dalam syariat sebagai bid’ah. Adapun perkara yang memiliki landasan dalam syariat, maka ia bukan bid’ah. Bid’ah dalam istilah syariat tercela, berbeda dengan bahasa. Segala sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya adalah bid’ah, baik terpuji atau tercela.” (Lihat Fathul Baary: vol. 13, hal. 266, 267, cet. Al Maktabah Al Salafiyyah)

وأما البدع فهو جمع بدعة وهي كل شيء ليس له مثال تقدم فيشمل لغة ما يحمد ويذم ويختص في عرف أهل الشرع بما يذم وأن وردت في المحمود فعلى معناها اللغوي

Ibnu Hajar juga berkata dalam bab “Maa Yukrah min Al Ta’ammuq wa Al Tanaaju’”, adapun bida’ adalah bentuk jamak dari bid’ah, ia adalah segala sesuatu yang tidak memiliki contoh sebelumnya, secara bahasa mencakup yang terpuji dan tercela. Bid’ah dalam istilah ahli syariat khusus untuk yang tercela, jika ia terdapat dalam yang terpuji, maka itu adalah makna secara bahasa.” (Fathul Baary: 13/291, 292)

Demikianlah maksud dari uangkapan para ulama yang membagi bid’ah kepada hasanah dan sayyi`ah atau lima sesuai lima hukum taklify, konteks pembicaraan mereka adalah bid’ah secara umum, baik dari sudut syariat atau dari sudut bahasa. Adapun para ulama yang tidak membagi bid’ah dengan pembagian tersebut, mereka hanya mengkhususkan bid’ah dalam sudut pandang syariat saja, yaitu bid’ah dalam masalah agama.

Oleh karena itu, Ibnu Hajar ketika mendefinikan bid’ah secara syariat berkata, “Sesuatu yang diada-adakan dalam agama dan tidak memiliki dalil baik umum atau khusus yang menunjukkannya.” (Fathul Bari: 13/254)

Beliau menyebutkan bid’ah dalam agama, bukan dalam urusan dunia. Bid’ah juga sesuatu yang tidak bersandar kepada dalil baik umum atau khusus.

Ditambah lagi jika kita memperhatikan contoh-contoh para ulama yang membagi bid’ah menjadi lima, maka jelas bahwa yang dicontohkan dari bid’ah yang wajib, mandub dan mubah itu bukan termasuk bid’ah menurut para ulama yang tidak membaginya. Contoh-contoh yang disebutkan adalah perkara-perkara baru yang tidak ada di zaman Rasulullah yang masuk kepada kategori urusan dunia atau hanya sekedar wasilah yang biasanya juga dikategorikan sebagai al mashalih al mursalah.

Abu Khalid Resa Gunarsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info