Back to top

Perbedaan Khilafah ala ISIS/IS dengan Khilafah ala Minhaj Nubuwwah

382883_318767208239394_665089546_nDr. Ahmad Raisuny (Pakar Maqashid Syariah dan Wakil Persatuan Ulama Internasional) Mengungkap perbedaan Khilafah Rasyidah atau Khilafah ala Minhaji Nubuwwah dengan Khilafah ala ISIS

Pertama, Khilafah Rasyidah menyatukan seluruh kaum muslimin dalam loyalitas dan kekuasaannya, seluruh kaum muslimin ridha dan berbahagia dengannya. Berbeda dengan khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS.

Kedua, Pemilihan Khalifah dilakukan dengan musyawarah oleh para tokoh Islam, bahkan jika memungkinkan melibatkan seluruh kaum muslimin baik laki-laki atau wanita, sebagaimana pemilihan Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata –sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari- “Barangsiapa yang membaiat seseorang tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin, maka janganlah ia diikuti dan juga orang yang dibaiatnya…”

Adapun khalifah kaum muslimin khayalan tersebut, kami tidak mengetahui siapa yang membaiatnya dan siapa yang memilihnya? Bagaimana kwalitas mereka dan kedudukan mereka dalam Umat. Yang kami ketahui dan kami tidak meragukannya, bahwa ia dibaiat oleh pendukung-pendukungnya saja.

Ketiga, pemilihan para khulafa rasyidin dilakukan dalam keadaan bebas dan aman, bukan dalam kondisi dibawah ancaman pedang. Adapun khilafah yang saat ini ramai dibicarakan di media-media, khilafah yang dipaksakan dalam keadaan fitnah dan peperangan, juga dalam kondisi rasa takut, ancaman dan pemaksaan. Dalam kasus dibawah ini pun (baiat), Imam Malik berkata, “Talak orang yang terpaksa tidak jatuh.” Maka baiat orang yang terpaksa dan takut adalah batil.

Keempat, Khilafah rasyidah adalah khilafah persatuan, rahmat dan nikmat atas kaum muslimin, bukan khilafah yang menimbulkan perang saudara antara kaum muslimin, bukan khilafah fitnah, kekacauan dan azab.

Kelima, khilafah ala minhaj an nubuwwah tegak diatas nilai-nilai, maksud-maksud syariat dan amal, bukan sekedar propaganda, penampilan dan julukan. Imam Al Baghawi dalam ‘Syarh As Sunnah’ menukil dari Humaid bin Zanjawaih, “Khilafah sesungguhnya hanya untuk orang-orang yang membuktikannya dengan amal-amal mereka, orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika mereka menyelisihi sunnah, dan merubah sirah (jalan Rasul), maka mereka pada hakikatnya adalah para raja, walaupun mereka disebut khalifah.”

Diterjemahkan dari situs: http://www.aljazeera.net

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info