Back to top

Selamat Tinggal Bulan Ramadhan

27917hlmjoBulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Haru biru saat kaum muslimin kembali berbuka (iedul fithri) membahana disetiap negeri. Bersahut kegembiraan diiringi ucapan doa dan harapan. Mudah-mudahan Allah menerima amal ibadah kita. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Mudah-mudahan Allah mengangkat derajat kita sebagai orang-orang yang bertakwa. Mudah-mudahan Allah masih memberi kesempatan kita untuk bertemu kembali pada tahun berikutnya.

Kepergian bulan Ramadhan tidak hanya memberi spirit baru bagi kaum muslimin, ia juga menyisakan kesedihan bagi orang-orang yang merasakan kenyamanan beribadah di dalamnya. Bagaimana tidak, bulan ramadhan adalah bulan yang Allah nyatakan sebagai bulan istimewa. Sungguh ia adalah hadiah yang sangat agung bagi hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Belajar dari waktu

Masih segar dalam ingatan, bagaimana sebulan yang lalu kaum muslimin sibuk menyambut bulan Ramadhan. Saat ini bulan itu telah berlalu. Disini ada pelajaran yang dapat kita renungkan. Bahwa waktu yang kita lalui di dunia ini begitu cepat berlalu. Secepat kilat. Sering kita tidak menyadari bahwa waktu di setiap detiknya menjadi bayang-bayang dari akhir kehidupan kita di dunia ini. Sering pula kita merasa ia begitu tidak berharga. Padahal telah banyak pelajaran yang kita saksikan dari perputaran waktu yang terus menggelinding. Seharusnya ia menjadi peringatan bagi hati yang kerap lalai dan lupa, bahwa kehidupan kelak ada akhir. Dan akhir itu adalah awal kita menjalani kehidupan abadi.

Saat peristiwa akhir itu datang, mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang Allah beritakan dalam Al-Quran, “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (QS al-Mu’minun [23]: 99-100)

Berbahagia karena ibadah

Bagi yang menjalani ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh kekhusyuan, mereka layak berbahagia karena rahmat dan keutamaan yang telah Allah berikan kepadanya. Sambil terus berdoa semoga ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’aala. Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah tersebut. Sambil memohon kepada Allah agar hidayah itu dipancangkan dalam hati. Allah berfirman, “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus [10]: 58)

Bagi yang masih merasa memiliki banyak kekurangan dalam memanfaat bulan Ramadhan kemarin, bertaubat kepada Allah, dan silahkan patrikan tekad jika Allah kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, kita akan bersungguh-sungguh memanfaatkannya dengan baik. Allah ta’ala berfirman, “Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (QS Hud [11]: 90)

Mengkhawatirkan amal yang tertolak (?)

Walaupun kita berbahagia atas amal ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan, namun kita juga pantas khawatir tentang amal shaleh yang telah kita lakukan. Karena amal yang dikerjakan itu belum tentu diterima oleh Allah, bernilai pahala dan mendatangkan kebaikan bagi kita kelak. Amal shaleh itu masih memungkinkan untuk ditolak oleh Allah sesuai dengan ketakwaan yang ada pada kita. “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Maaidah [5]: 27)

Para sahabat dahulu, selama setengah tahun setelah bulan Ramadhan berlalu, mereka terus berdoa agar amal ibadah yang mereka kerjakan di bulan Ramdhan diterima oleh Allah. Pada setengahnya lagi mereka berdoa agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Ini menunjukkan keimanan mereka yang sangat kuat terhadap Allah dan hari akhir.

Ummul Mukminin, Aisyah -radhiyallahu ‘anha- pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat “Dan orang-orang yang memberikan (beramal) apa yang telah mereka berikan, sementara hati mereka takut (khawatir), (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS al-Mukminun [23]: 60). Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud dalam ayat ini mereka yang minum khamr dan berlebih-lebihan?” Rasulullah menjawab, “Tidak wahai anak perempuan as-shiddiq, akan tetapi  mereka justru orang yang yang shaum, shalat dan bersedekah. Sementara mereka khawatir amal-amalnya itu tidak diterima, merekalah orang-orang yang selalu bersegera kepada kebaikan.” (HR Tirmidzi, dishahihkan syaikh Al-Bani)

Lanjutkan!

Ini peringatan penting. Beragam Akititas kebaikan dan proyek amal shaleh yang telah terbiasa kita lakukan di bulan Ramadhan, hendaknya kita pertahankan pada bulan-bulan berikutnya. Sedekah, shalat, tilawah, hadir di majelis ilmu dan amal yang lain yang telah terbiasa kita lakukan di bulan Ramadhan kemarin hendaknya tidak kehilangan tempat dalam kehidupan kita selanjutnya. Jika itu terjadi, maka sungguh cita-cita dari ibadah shaum itu menjadi hambar dan tidak bermanfaat. Bukankah tujuan shaum kita adalah mencapai derajat takwa? Dan bukankah takwa harus dilakukan disetiap zaman dan waktu?

Seorang salaf ditanya tentang orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan Ramadhan. Namun setelah Ramadhan berlalu, mereka kembali berbuat sia-sia dan keburukan. Maka ia menjawab, “Kaum yang buruk, mereka hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan. Karena orang yang benar-benar mengenal Allah, ia akan takut kepada-Nya dalam setiap tempat dan waktu.”

Di dalam Al-Quran, Allah mengumpamakan orang-orang yang berlaku demikian dengan seorang perempuan yang memintal benang, setelah pintalannya kuat, ia malah mencerai-beraikan kembali. “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS an-Nahl [16]: 92)

Rasulullah juga memperingati tentang hal ini. Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda kepadaku, “Janganlah kamu seperti si fulan, ia dulu rajin melakukan shalat malam, lalu ia meninggalkannya.” (HR Bukhari Muslim)***Wallahu ‘alam bish-shawab

Taqabbalallhu minal muslimina shiyaamahum wa qiyaamahum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info