Back to top

Yang dapat Menggugurkan Dosa Besar dan Dosa Kecil, Serta Yang Hanya Menggugurkan Dosa Kecil

2a0df837c7185916fff8b099dd4d07b4_XLAda hal-hal yang bisa menggugurkan dosa besar dan dosa kecil, dan ada hal-hal yang hanya bisa menggugurkan dosa kecil saja.

Pertama: Hal-hal yang bisa menggugurkan dosa besar dan dosa kecil.

1. Taubat

Taubat dilakukan dengan cara berlepas dari perbuatan dosa yang telah dilakukan seluruhnya, merasa menyesal, bertekad tidak akan kembali kepada perbuata dosa itu, mengembalikan hak orang yang terzalimi dan dilakukan dengan dasar mengharap pahala dari Allah serta takut kepada azab dan siksa-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrîm: 8)

2. Amal-amal ketaatan yang Allah jadikan sebagai penggugur segala dosa.

Diantaranya, haji mabrur. Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa berhaji, sedang ia tidak berkata buruk dan tidak berbuat fasik, ia akan kembali pada kondisi di hari ia dilahirkan,”[1]

3. Syahid di jalan Allah.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Orang syahid diampuni segala dosanya kecuali utang.”[2] Ya Allah! Karuniakan kepada kami syahid di jalan-Mu dengan penuh kerinduan.

4. Diberlakukan hukuman (had) di dunia.

Dari Ubâdah bin ash-Shâmit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda saat berada di tengah-tengah beberapa sahabatnya, “Berikanlah janji setia kalian untukku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak berlebih-lebihan, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak  berdusta yang kamu lakukan antara tangan dan kaki kalian dan jangan membangkang dalam kemakrufan. Barangsiapa yang memenuhi janji itu, maka balasannya ada pada Allah. Barang siapa yang melanggar salah satu dari itu, kemudian Allah tutupi, maka masalahnya tergantung keputusan Allah. Jika Allah berkehendak, Allah ampuni dan jika Allah berkehendak Allah hukum ia.”[3]

Barang siapa melakukan pelanggaran, lalu mengadukannya kepada pemimpin muslim dan diberlakukan atasnya hukuman (had), maka dosa besar yang diperbuatnya pada hari akhir tidak akan dihisab. Inilah yang mendorong Ma’iz dan wanita al-Ghâmidiyyah untuk mengakui perbuatan zinanya dihadapan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Ia ingin mensucikan dirinya dari dosa yang telah ia lakukan. Jika hukuman itu tidak dapat menggugurkan dosanya, -sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian para ulama- lalu apa yang mendorong dirinya mengakui perbuatan dosanya. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.

Kedua: Hal-hal yang hanya menggugurkan dosa kecil.

1. Melaksanakan amal-amal fardhu secara rutin dan menjauhi dosa-dosa besar.

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS. An-Nisâ: 31)

Dalam shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat lima waktu, dari waktu jum’at sampai jum’at berikutnya, dari bulan ramadan sampai bulan ramadhan berikutnya, adalah penggugur dosa, selama menjahui dosa besar.”[4]

2. Melakukan perbuatan baik setelah melakukan perbuatan buruk.

Dalam shahih Bukhâri dan Muslim, Ibnu Mas’ûd mengisahkan ada seorang mencium seorang wanita, lalu ia datang kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam dan mengabarkannya. Turunlah firman Allah:

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hûd: 114)

Orang itu kemudian berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah ini untukku?” beliau bersabda, “untuk umatku seluruhnya.”[5]

Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’âdz, “Dan ikutkanlah keburukan dengan kebaikan, maka itu akan menghapusnya.”[6]

3. Musibah duniawi.

Dari ‘Âisyah radhiyallahu ‘anhâ, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada satu musibah pun yang menimpa seorang muslim kecuali hal itu menjadi penggugur dosa, hingga duri yang menusuknya.”[7]

4. Amal-amal ketaatan yang Allah jadikan sebagai penggugur dosa

para ulama menyatakan amal-amal tersebut tidak dapat menggugurkan dosa besar, melainkan harus dilakukan dengan taubat seperti dalam hadis berselisihnya penduduk langit, “Apakah hal-hal yang menggugurkan dosa itu?” ia berkata, “Melangkahkan kaki menuju jamaah, menyempurnakan wudhu dalam kondisi berat dan berdiam diri di mesjid setelah shalat.”[8]

Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan dan mengangkat derajat?” mereka berkata, “ya wahai Rasulullah” beliau kemudian bersabda, “Menyempurnakan wudhu dalam kondisi berat, memperbanyak langkah menuju mesjid, menunggu shalat setelah shalat. Itulah al-Ribath (sikap siaga), itulah al-Ribath.”[9]

Dari Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shaum pada hari ‘Arafah menggugurkan dosa dua tahun; tahun yang lalu dan yang akan datang. Dan shaum pada hari ‘Asyura menggugurkan dosa yang telah lalu.”[10]

5. Saling beristighfar antara kaum muslimin dan istighfar malaikat.

“Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Ghâfir: 7)

_______________________

[1] HR Bukhâri (3/382) al-Hajj, Muslim (9/119) al-Hajj.

[2] HR Muslim (13/30) al-Imâratu, lihat komentar Nawawi dalam footnote. Saya juga telah menukilnya dalam buku ‘al-Bahru al Râiq’ footnote (184)

[3] HR Bukhâri (1/64) al-Îmân.

[4] Telah lalu takhrijnya hal._

[5] HR Bukhâri (2/8) Mawâqitu as-Shalât, Muslim (17/79) at-Taubat.

[6] HR Tirmidzi (8/155) al-Birr dan berkata, ini adalah hadis hasan, Ahmad (5/168) dihasankan Albani.

[7] HR Bukhâri (10/103) al-Mardhâ, Muslim (16/129)  al-Birr wa al-Shilatu.

[8] Dikeluarkan Abu Nu’aim dalam ‘al-Hilyah’ (1/79-80), Khathîb al-Baghdâdi dalam al-Faqîh wa al-Mutafaqqih (1/49-50)

[9] HR Muslim (3/141) at-Thahârah, Tirmidzi (1/67) at-Thahârah, Nasâi (1/89-90) at-Thahârah. Termasuk juga shaum hari ‘Arafah dan ‘Asyura.

[10] HR Muslim (8/51) as-Shiam, Abu Dâwud (2408) as-Shaum

[Sumber: Tahdzîr al Dânî wa al Qâshî min ‘Uqûbati al Dzunûb wa al Ma’âshî, hal. 24 – 27, Dr. Ahmad Farid]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info