Back to top

Ancaman Bagi Orang Yang Mengambil Tanah Milik Orang Lain

123918833b4d3525e1ace0b5498e7db2d10e2ebcDari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengambil sebidang tanah yang bukan haknya, pada hari kiamat akan dibenamkan dalam tanah sedalam tujuh tingkat tanah di bumi.”[1]

Dari Sa’îd bin Zaid, saya mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berbuat kezaliman dalam hal tanah, maka di hari kiamat akan diberatkan dengan tujuh lapis tanah.”[2]

Al-Hâfidz berkata, “berkata al-Khaththâbi, “lafadz “diberatkan” memiliki dua makna: pertama, ia dibebankan untuk memindahkan tanah yang diambilnya itu ke tempat ‘al-mahsyar’ maka seperti yang diberatkan pada kuduknya. Jadi, bukan hakikatnya.

Kedua, bahwa ia diazab dengan dibenamkan ke dalam tanah sedalam tujuh lapis tanah. Maka, setiap lapisnya seakan-akan beban pada kuduknya.

Al-Hâfidz berkata, “dalam hadis ini terdapat pengharaman berbuat zalim dan merampas serta ancaman keras atas akibatnya, bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Al-Qurthubi berkata, “bahwa diantara dosa besar adalah yang mendapat ancaman keras”. Pada hadis ini juga terdapat faidah, bahwa orang yang memiliki suatu tanah, maka ia juga memiliki bagian bawah dari tanah itu. Boleh baginya melarang orang lain menggali bagian bawahnya tanpa izin. Begitu juga orang yang memiliki tanah berhak atas segala yang dikandung oleh tanah tersebut seperti batu, hasil bumi dan yang lainnya. Ia diperbolehkan menggali lubang sekehendaknya selama tidak mengganggu orang lain yang berada di sampingnya.

Masih dalam hadis ini, kita bisa mengetahui bahwa lapisan bumi yang tujuh itu bertumpuk-tumpuk tidak teripisah satu sama lain. Karena, jika lapisan tanah itu terpisah, maka seharusnya cukup ganjaran bagi orang yang merampas harta itu dibebankan lapisan tanah yang dirampasnya saja. Begitulah juga yang diisyaratkan oleh ad-Dawâdi.[3]

[Dr. Ahmad Farid – Tahdzîr al Dânî wa al Qâshî min ‘Uqûbati al Dzunûb wa al Ma’âshî]

 _________________

[1] HR Bukhâri (5/103), al-Madzâlim.

[2] HR Bukhâri (5/103) al-Madzâlim.

[3] Fathu al-Bâri (5/105)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info