Back to top

Dakwah dan Jihad

gubuk-sawahBismillah.

Ada dua model perjuangan kaum muslimin menegakkan Syariat Allah:Dakwah (dan Pengajaran) dan Jihad (mengangkat senjata)

– Baik dakwah atau jihad harus dimaksudkan untuk meninggikan kalimat Allah dan bukan yang lain.
– Baik dakwah atau jihad harus didasarkan kepada ilmu yang benar
– Jihad mengangkat senjata dilakukan secara kondisonal, yaitu pada saat kaum muslimin memiliki kekuatan, adapun dakwah dilakukan dalam setiap kondisi, baik saat lemah atau kuat.
– Tidak seluruh para rasul dan nabi berjihad mengangkat senjata, akan tetapi seluruh para nabi dan rasul berdakwah.
– Dakwah dan jihad sama-sama memiliki kedudukan dan keutamaan yang tinggi dalam Islam, namun dakwah lebih utama karena dakwah menundukkan hati manusia, sementara jihad menundukkan jasad manusia.

Dakwah adalah pokok perjuangan, sementara Jihad mengangkat senjata adalah salah satu intrumen perjuangan yang juga bertujuan menopang dan melindungi dakwah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai perjuangannya dengan dakwah. Rentang perjuangan beliau selama 13 tahun di Mekah beliau habiskan hanya untuk berdakwah, berdakwah dan berdakwah. Pun begitu saat beliau di Madinah, beliau pun terus berdakwah mengajak manusia kepada agama Allah. Karena demikianlah tujuan Islam datang, untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan berkeyakinan dan berprilaku, bukan untuk membantai dan memusnahkan mereka.

Dengan dakwah, Islam menginginkan jiwa dan raga seluruh manusia tunduk kepada Sang Pencipta, Allah jalla jalaaluh. Dakwah pun harus berjalan dalam kerangka rahmatan lil ‘aalamin, sesuai dengan tujuan dari pengutusan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang tak kalah pentingnya, dakwah juga harus dilakukan dalam koridor hikmah (bijaksana), pelajaran yang baik, dan adu argumentasi dengan cara yang elegan.

Sabar dalam menjalani perjuangan dakwah sangat niscaya. Menanti hasil dari kerja-kerja dakwah tidak boleh tergesa-gesa. Karena tantangan akan selalu ada. Karena rintangan takkan pernah sepi. Jiwa manusia yang cenderung menentang, setan yang tak pernah lelah dan kehabisan cara untuk menyesatkan manusia, menjadikan jalan dakwah kian berat untuk dilalui, kecuali bagi orang-orang yang dirahmati Allah.

Seluruh para Nabi yang diutus oleh Allah kepada umat manusia menjalani perjuangan dakwah, namun tidak setiap dari mereka berjihad mengangkat senjata. Sekali lagi, karena dakwah adalah pokok dan dilakukan sepanjang waktu, sementara Jihad mengangkat senjata adalah wasilah dan dilakukan hanya saat dibutuhkan, dengan syarat dan kondisi tertentu.

Dakwah itu seperti perang; perang melawan dua hal dalam diri manusia:

(1) Kebodohan.
(2) Hawa nafsu.

Layaknya perang membutuhkan senjata. Dakwah pun membutuhkan senjata. Senjata dalam dakwah adalah:

(1) Iman yang kuat; karena senjata apapun tidak lagi bermanfaat tanpa Iman yang kuat.

(2) Ilmu yang benar; karena membabat kebodohan dan melawan hawa nafsu tak mampu dilakukan tanpa ilmu yang benar.

(3) Akhlak yang mulia; karena dengan akhlak yang mulia muatan kebenaran dalam dakwah akan lebih mudah diterima.

Dalam kancah dakwah, selain iman dan ilmu, akhlak merupakan amunisi penting untuk memerangi kebodohan dan hawa nafsu pada diri manusia. Akhlak ini pula lah yang dipersiapkan oleh Allah pada diri baginda Rasulullah, jauh-jauh hari sebelum Dia mengutusnya sebagai pembawa risalah. Kegagalan demi kegagalan kerap terjadi dalam medan dakwah, dan sebab dari semua itu adalah karena para pengusung dakwah tidak memiliki kecakapan dalam akhlak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info