Back to top

Mana Yang Lebih Utama, Zikir Ataukah Tilawah Al Qur`an?

qiyamul-lailSyaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyyah rahimahullah berkata:

Alhamdulillah. Aku telah ditanya, mana yang lebih utama, tilawah al Qur`an atau berzikir?

Maka aku menjawab: Hal itu dapat berbeda tergantung kepada orang dan keadaan. Bagi orang yang memiliki pemahaman terhadap Kitab Allah ta’ala, jika ia bertilawah seraya mentadaburi ayat-ayatnya, kian bertambah pengetahuannya tentang hikmah dan hukum, semakin jelas baginya makna dan hakikat dari pokok-pokok agama serta cabang-cabang halal dan haram. Bagi orang itu, tilawah lebih utama. Bagaimana tidak, sesungguhnya tilawah Al Qur`an adalah dzikir yang paling utama, dan memahami hukum-hukum Allah merupakan sebaik-baik amal kebaikan.

Dulu ‘Atha rahimahullah pernah berkata, majlis Zikir adalah majlis halal dan haram, yang membahas bagaimana engkau berjual beli, shalat, puasa, haji, mentalak dan yang semacamnya.

Bagi orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memahami Kalamullah ta’ala dan zikir baginya lebih dapat membangkitkan semangatnya dan membersihkan pikirannya, maka berzikir adalah lebih utama dalam keadaan ini.

Namun hendaknya bagi siapa saja yang ingin menambah kebaikan, ia tidak meninggalkan bagian dari keduanya. Hendaknya ia berzikir kepada Allah sampai ia bosan. Kemudian ia berpindah kepada zikir dengan cara membaca Al Qur`an dengan:

  • Tadabbur.
  • Tartil.
  • Tafakkur.
  • Pengagungan, saat membaca ayat-ayat tauhid dan pensucian Allah.
  • Doa, saat membaca ayat-ayat janji dan harapan.
  • Merendahkan diri dan memohon perlindungan saat membaca ayat-ayat takut dan ancaman.
  • Mengambil ibroh saat membaca kisah-kisah.

Al Qur`an al Al Karim, tidak akan bosan orang yang membacanya. Karena di dalamnya terkandung beragam makna.

Dan saat berzikir pun, hendaknya tidak melupakan suatu faidah yang dikatakan olah para ulama, yaitu saat berzikir mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’ misalnya, ia pun memaksudkan untuk membaca firman Allah ta’ala dalam surat Muhammad (ayat 9), “Fa’lam annahu laa ilaaha ilallaah.” (Maka ketahuilah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah) agar kalimat yang penuh berkah ini bernilai zikir dan tilawah, sehingga dengannya terkumpul dua keutamaan.

Dan bagi masing-masing dari zikir dan tilawah ada beberapa etika dan syarat yang disebutkan oleh para ulama. Hendaknya ia diperhatikan dan dijaga. Jika seseorang mendapati seorang guru yang dapat mendidiknya, hendaknya ia serahkan urusannya kepada sang guru tersebut, agar ia yang mengarahkannya kepada yang lebih utama untuknya. Wallahu A’lam.

[Jami’ul Masa`il: 3/385 – 386]

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 1 Rajab 1438 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info