Back to top

Bacaan Dzikir Setelah Shalat

qiyamul-lailImam Nawawi rahimahullah berkata, “Seluruh para ulama sepakat tentang kesunnahan dzikir setelah shalat.”[1] Disunnahkan untuk berdzikir dengan suara. Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Mengangkat suara dengan dzikir ketika manusia selesai melaksanakan shalat fardhu adalah kebiasaan di masa Nabi.”[2] Dalam redaksi lain Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mengetahui berakhirnya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan takbir.”[3]

Dzikir-dzikir tersebut adalah:

  1. Beristighfar kepada Allah tiga kali, kemudian mengucapkan, “Allahumma antas-salaam wa minkas-salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam.” (Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia)[4]
  2. Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kuli syai`in qadiir, laa haula wa laa quwwata illaa billaahi, laa ilaaha illallaah, wa laa na’budu illaa iyyaahu, lahun-ni’matu wa lahul-fadhlu, wa lahuts-tsanaa`ul-hasan, laa ilaaha illallaahu mukhlishiina lahud-diina, wa lau karihal kaafiruun. (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Baginya nikmat, anugerah, dan pujaan yang baik. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir membencinya)[5] Diriwayatkan dari hadis Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ber-ihlal dengannya setiap selesai shalat.” Ihlal adalah mengangkat suara.
  3. Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kuli syai`in qadiir, allahumma laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal-jaddu. (Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya Kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Nasib baik seseorang tiada berguna untuk menyelamatkan ancaman dari-Mu)[6]
  4. Kemudian bertasbih, tasbih memilik beberapa redaksi.

Pertama, subhanallah 33 x, alhamdulillah 33 x, Allahu akbar 33 x, lalu digenapkan menjadi 100 dengan laa ilaaha illallaah wahdahu…dst. Ini berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bertasbih kepada Allah pada setiap selesai shalat 33 x, memuji Allah 33 x, bertakbir 33 x, semua itu 99, lalu menggenapkannya menjadi 100 dengan laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kuli syai`in qadiir, akan diampuni dosanya yang telah lalu walaupun seperti buih di lautan.”[7]

Kedua, subhanallah 33 x, alhamdulillah 33 x dan Allahu akbar 33. Ini berdasarkan hadis Ka’ab bin Ujrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada amalan-amalan dimana pengucap atau pelaksanaanya setiap shalat fardhu tidak akan rugi: yaitu 33 x tasbih, 33 x tahmiid dan 33 x takbir.”[8]

Ketiga, subhanallah 25 x, alhamdulillah 25 x, Allahu akbar 25 x dan laa ilaaha illallaah 25 x. dzikir seperti ini datang dalam riwayat Tirmidzi dari hadis Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu.[9]

Keempat, subhanallah 10 x, alhamdulillah 10 x dan Allahu akbar 10 x. dzikir seperti ini datang dalam riwayat Tirmidzi dari hadis Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu.[10]

Telah disebutkan sebuah kaidah dalam ibadah-ibadah yang memiliki beberapa versi, hendaknya dikerjakan secara bervariasi.

Disunnahkan untuk bertasbih menggunakan tangan, hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Tirmidzi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertasbihlah dan hitunglah menggunakan jari-jari, karena ia kelak akan ditanya dan berbicara.”[11]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Dan menghitung tasbih dengan jari adalah sunnah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Bertasbihlah dan hitunglah menggunakan jari-jari, karena ia kelak akan ditanya dan berbicara.” Ada pun bertasbih dengan sesuatu yang disusun dalam sebuah tali (alat tasbih), sebagian orang memakruhkannya dan sebagaian dari mereka tidak memakruhkannya. Jika diniatkan baik, maka hal itu dan tidak makruh.”[12]

  1. Membaca ayat kursi.

Hal ini berdasarkan hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga melainkan kematian.”[13]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sampai kepadaku dari guru kami Abul Abbas Ibnu Taimiyyah –semoga Allah mensucikan ruhnya- bahwa ia berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya setiap selesai shalat.”[14]

  1. Membaca surat al Falaq dan an-Naas.

Hal ini berdasarkan hadis ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk membaca dua surat perlindungan setiap selesai shalat.” [15]

_________________________

[1] Al Adzkar, hal. 66.

[2] HR Bukhari: 841, Muslim: 583.

[3] HR Bukhari: 842, Muslim: 583.

[4] HR Muslim: 591 dari hadis Tsuban radhiyallahu ‘anhu.

[5] HR Muslim: 592.

[6] HR Bukhari: 844, Muslim: 593 dari hadis Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu.

[7] HR Muslim: 597.

[8] HR Muslim: 596.

[9] HR Tirmidzi: 3413, dinilai shahih oleh al Albani (Tahqiq Misykatu al Mashabih: 1/307)

[10] HR Tirmidzi: 3410, dinilai shahih oleh al Albani (Tahqiq Miyskatu al Mashabih: 2/743)

[11] HR Ahmad: 27089, Tirmidzi: 3486, dinilai hasan oleh al Albani: (Shahih al Jami’: 2/753)

[12] Lihat: Mujmu’ al Fatawa: 22/506.

[13] HR An Nasa`I dalam As Sunan al Kubra: 9928, dinilai shahih oleh al Albani (Targhib wa Tarhib: 2373) Ibnu Abdil hadi (Muharrar: 1/198) dan Ibnul Qayyim (Zadul Ma’ad: 1/303)

[14] Lihat: Zadul Ma’ad: 1/285.

[15] HR Abu Dawud: 1525, al Albani berkata: “Aku berkata: sanadnya shahih, dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.” (Shahih Abu Dawud: 5/254)

[Dinukil dari tulisan Syaikh Abdullah Hamud Al Furaij, Al Minah Al ‘Aliyyah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info