Back to top

Etika Berziarah Kubur

Ci5cxcvXIAA1RwRAda sebuah esai ringkas menarik merangkum sejumlah hukum dan adab ziarah kubur yang disisipkan oleh Imam an-Nawawiy (w. 676 H) di kitab “al-Majmū'” (jilid 5, hl. 286-287) dan buku beliau lainnya “Ru’ūs al-Masā’il wa Tuhfat Thullāb al-Fadhāil” (hlm. 89-92). Pada asalnya ia merupakan bagian dari karya penulisan yang disusun oleh Abu Musa al-Ashfahāniy (w. 581 H) yang disebut “harta tersembunyi” oleh al-Hāfizh Abu Mas’ud Kūtāh (w. 553 H) dalam kitabnya “Ādāb Ziyārat al-Qubūr”. Namun hingga saat ini penulis tidak pernah mengetahui keberadaan buku tersebut serta statusnya apakah sudah pernah dicetak dan diterbitkan di mana atau memang manuskripnya belum pernah sama sekali ditemukan di zaman sekarang.

Lantaran kutipan dari kitab an-Nawawiy kedua sedikit lebih panjang, maka saya jadikan ia sebagai rujukan dalam pengutipan. Berikut ini narasinya:

Masalah Dalam Ziarah Kubur

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Dulu aku melarang kalian menziarahi kubur. Maka kemudian ziarahilah.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Buraidah.

Berkata al-Hāfizh Abu Musa al-Asfahāniy dalam kitabnya “Ādāb Ziyārat al-Qubūr”,

Telah datang perintah menziarahi kubur dari hadis Buraidah, Anas, Ali, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Abu Hurairah, Aisyah, Ubay bin Ka’ab dan Abu Dzarr.

Diriwayatkan pula berdiri di sisi kubur dari hadis Abu Umamah, al-Hakam bin al-Harits, Ibn Umar, Anas dan sejumlah kalangan Salaf.

Perkara ini -sesuai pendapat yang kami pilih- adalah longgar. Sebagaimana seorang mengunjungi saudaranya saat masih hidup, mungkin ia memilih duduk di dekatnya, berdiri, atau hanya sambil berlalu.

Adapun meletakkan tangan di atas kubur, hal itu kami riwayatkan dengan sanad lemah bahwa Nabi meletakkan tangan kanan beliau di atas kubur Ibrahim puteranya dekat posisi kepalanya saat mengebumikannya.

Seluruh sanad riwayat ini terputus. Begitupun ia hanya berlaku pada saat meratakan kubur bukan saat berziarah di mana ketika itu memang harus menggunakan tangan untuk meratakan permukaan tanah makam.

Diriwayatkan juga bahwa Abu Ayyub meletakkan wajahnya di atas kubur. Ini juga dhaif.

Kemudian dihikayatkan bahwa Imam Malik berpendapat akan makruhnya menyentuh kubur. Beliau berkata, “Jika seorang hendak mendatangi kubur Nabi, hendaknya ia membelakangi kiblat dan menghadap Nabi, bershalawat dan berdoa. Dimakruhkan meletakkan tangannya di atas kubur.'”

Abu Musa al-Hāfizh berkata, “Abu al-Hasan Muhammad bin Marzūq bin Abdurrazzaq al-Za’farāniy (w. 517 H) (seorang dari para fuqahā muhaqqiqīn) berkata di dalam kitab al-Janāiz,

‘Tidak diperkenankan bagi seorang melakukan shalat ke arah kubur juga di dekatnya dengan tujuan bertabaruk atau mengaggungkannya. Dan sabda Rasulullah, ‘Janganlah kalian shalat di atas kuburan atau menghadapnya. Semata Bani Israil binasa karena mereka dulu menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai mesjid.

Tidak diperkenankan menyentuhnya dengan tangan ataupun menciumnya dengan mulut. Seperti itulah tradisinya dalam Sunnah.

Memegang kubur dan menciumnya sebagaimana dilakukan kalangan awam saat ini termasuk dalam kategori bidah-bidah mungkar yang harus dijauhi dan dicegah pelakunya.

Asy-Syāfi’i rahimahullah berkata, ‘Saya membenci (akrahu) pengagungan seorang makhluk hingga kuburnya dijadikan mesjid karena khawatir dirinya terfitnah, begitu pula orang lain setelahnya.’

Siapa yang hendak memberi salam kepada mayit hendaknya menyampaikannya dari arah posisi kepala si mayit. Jika hendak medoakannya hendaknya berpaling dan menghadap kiblat.'”

Al-Hāfizh Abu Musa kembali berkata, “Para fuqaha al-mutabahhirūn (berilmu luas ibarat samudera) dari Khurāsān berpendapat, ‘Yang disunnahkan pada saat ziarah kubur adalah berdiri membelakangi kiblat dan menghadap ke wajah mayit, lantas memberi salam. Tidak mengusap kubur, mencium dan menyentuhnya karena itu semua termasuk ritual orang-orang Nasrani.'”

Abu Musa al-Hāfizh mengomentari, “Apa yang mereka sebutkan adalah benar, karena telah sah larangan mengagungkan kuburan. Begitu pula jika menyentuh rukun (sudut) ‘Irāqiy dan Syāmiy dari Ka’bah karena tidak diberi contoh oleh Nabi, padahal dua rukun lainnya disentuh, maka lebih utama lagi untuk tidak menyentuh kuburan. Wallāhu A’lam.”

Penulis: Ust. Alee Massaid, Lc hafizdahullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info