Back to top

Hukum Menjual Hasil Kebun atau Sawah Sebelum Panen

www_arab-x_com_44f362f593Alhamdulillah. Wash Shalatu was Salamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Alihi wa Shahbihi Ajma’in.

Menjual hasil kebun atau tanaman sebelum dipanen memiliki beberapa bentuk:

Pertama: Menjual hasil kebun atau tanaman dalam tanggungan penjual (utang) dalam tempo yang ditetapkan, yang diambil dari sebuah kebun dengan pembayaran dimuka. Hal ini boleh dan termasuk jual beli salam.

Contoh: Pak Ahmad menjual hasil kebun cabainya kepada Pak Shaleh sebanyak 1 kwintal dengan utang, diserahkan setelah panen dari kebun milik Pak Ahmad dengan pembayaran dimuka sebesar 2 juta rupiah.

Kedua: Menjual hasil kebun atau tanaman saat buahnya telah layak panen. Hal ini juga diperbolehkan, jika dengan pembayaran sejumlah uang. Jika pembayarannya menggunakan sistem barter dengan barang ribawi seperti menjual beras dengan gandum, disyaratkan pembayarannya tunai dan tidak boleh diutang agar tidak terjatuh pada riba.

Contoh: Pak Ahmad menjual hasil sawahnya yang sudah menguning namun belum dipanen kepada Pak Shaleh dengan pembayaran sejumlah uang. Pak Shaleh menyerahkan sejumlah uang tersebut dan mengurus pemotongannya, atau mensyaratkan kepada Pak Ahmad pemotongannya.

Ketiga: Menjual hasil kebun atau tanaman sebelum layak panen, namun dipanen saat itu juga. Seperti untuk keperluan pakan hewan ternak. Hal ini juga diperbolehkan karena tidak mengandung unsur gharar (ketidakjelasan) di dalamnya.

Contoh: Pak Ahmad menjual hasil kebun berupa gandum yang belum matang kepada Pak Shaleh dengan pembayaran sejumlah uang, dipotong saat itu juga untuk keperluan pakan hewan.

Keempat: Menjual hasil kebun atau tanaman sebelum layak panen dan baru diserahkan setelah panen nanti. Hal ini haram hukumnya karena mengandung gharar (ketidakjelasan) di akhirnya. Karena bisa jadi, hasil kebun atau tanaman itu tidak bertahan sampai masa panen sehingga pembeli mengalami kerugian.

Contoh: Pak Ahmad menjual hasil kebun rambutannya yang masih hijau kepada Pak Shaleh dengan pembayaran sejumlah uang. Rambutan baru akan dipanen setelah matang nantinya.

[Disarikan dari Fatawa Nur ‘ala Ad Darbi, vol. 19, hal. 64, Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info