Back to top

Ringkasan Fikih Puasa; Hukum-Hukum dan Adab-Adabnya

new_1433581077_817Ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum ibadah puasa, yang dengannya kita dapat mengetahui cara melaksanakan ibadah puasa dengan benar, termasuk diantara ilmu yang wajib dipelajari setiap muslim (fardhu ‘ain). Hal ini sejalan dengan hukum dari puasa Ramadhan itu sendiri. Ia adalah ibadah yang wajib dilaksanakan setiap muslim dan muslimah. Bahkan termasuk salah satu dari rukun Islam yang lima.

Syarat wajibnya puasa

  1. Islam, maka orang kafir tidak wajib berpuasa dan tidak sah puasanya jika ia berpuasa. Karena syarat seseorang diterima amalannya adalah Islam.
  1. Baligh, maka anak kecil tidak diwajibkan berpuasa. Namun hendaknya bagi orang tua yang melihat anaknya sudah mampu berpuasa, ia melatih anaknya untuk berpuasa dan puasanya sah.
  1. Berakal, maka orang gila, cacat mental, pikun, koma atau pingsan tidak wajib berpuasa dan tidak sah puasanya.
  1. Tidak sedang safar, maka orang yang sedang dalam perjalanan (safar) tidak wajib berpuasa, ia boleh berbuka sebagai keringanan baginya, namun ia harus menggantinya pada bulan yang lain.
  1. Suci dari haidh dan nifas, maka wanita yang sedang haidh atau nifas tidak wajib dan tidak diperbolehkan berpuasa, dan ia harus menggantinya (qadha) pada bulan yang lain.
  1. Mampu berpuasa, maka orang yang sakit tidak wajib berpuasa dan ada keringanan untuk berbuka, namun ia wajib menggantinya (qadha) dengan berpuasa di bulan yang lain. Jika sakitnya tidak lagi diharapkan kesembuhannya, maka ia menggantinya dengan membeyar fidyah. Begitu juga tidak wajib berpuasa bagi orang yang sudah tua jika ia tidak mampu melakukannya dan menggantinya dengan fidyah.

Yang Diperbolehkan Berbuka (tidak berpuasa)

a. Orang sakit

Orang sakit yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa adalah yang menderita penyakit yang cukup payah, sehingga jika ia berpuasa, hal itu dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya, menyakitinya atau memperparah penyakitnya. Adapun penyakit ringan seperti flu, batuk atau sakit kepala ringan dan yang sepertinya, maka hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak berpuasa.

Bagi yang sakit dan masih diharapkan kesembuhannya, maka ia wajib mengqadha puasanya di bulan yang lain tatkala ia sembuh dari sakitnya. Namun bagi orang yang sakitnya cukup parah sehingga tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka yang harus dilakukannya adalah memberi makan satu orang miskin (fidyah) untuk mengganti setiap satu harinya

b. Musafir

Orang yang sedang dalam perjalanan, diperbolehkan untuknya berbuka. Para ulama sepakat tentang kebolehan berbuka bagi orang yang berpuasa. Namun mereka berbeda pendapat soal mana yang lebih utama, apakah berbuka atau tetap berpuasa?

Jika perjalanan tersebut menimbulkan beban yang cukup berat, maka yang lebih utama adalah berbuka. Ini adalah pendapat mayoritas para ulama. Namun jika perjalanan tersebut tidak menimbulkan beban yang berat, mayoritas para ulama berpendapat bahwa berpuasa lebih utama.

Sekelompok para ulama, diantara Ibnu Taimiyyah rahimahullah, memilih pendapat bahwa dalam keadaan apapun, berbuka lebih utama, hal ini sebagaimana hadis,

“Bukan termasuk kebaikan, berpuasa dalam keadaan safar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tatkala seseorang telah meninggalkan kota atau daerah tempat tinggalnya, ia baru diperbolehkan untuk berbuka. Namun jika ia masih di dalam kota, tidak boleh baginya mulai berbuka.

Seorang yang berbuka karena safar, maka ia harus mengganti puasa yang telah ia tinggalkan itu di hari yang lain (Qadha).

c. Orang tua yang sudah renta

Diperbolehkan bagi orang yang sudah lanjut usia dan renta untuk tidak berpuasa jika memang. Hal sebagaimana firman Allah ta’ala (artinya),

“dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin.” (QS. Al Baqarah [2]: 184)

Sebagaimana dalam ayat diatas, orang tua yang tidak berpuasa wajib menggantinya dengan fidyah.

d. Hamil dan Menyusui

Diperbolehkan bagi wanita yang sedang hamil atau menyusui untuk berbuka di bulan Ramadhan, baik karena khawatir kepada dirinya sendiri atau kepada janin dan anak yang sedang disusuinya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala menggugurkan setengah dari shalat bagi seorang musafir dan menggungurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan menyususi.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Nasa`i)

Bagi wanita yang meninggalkan puasa karena hamil atau menyusui, maka ia wajib mengqadha puasanya di bulan yang lain sebagaimana orang yang sakit atau musafir.

  • Hukum puasa bagi pekerja berat

Para pekerja berat termasuk orang-orang diwajibkan untuk berpuasa. Ia tidak termasuk orang yang sakit atau musafir. Maka, wajib berniat puasa di malam harinya untuk esok hari. Puasa di pagi harinya sebagaimana biasa. Namun jika tatkala ia berkerja, dalam keadaan ia membutuhkan pekerjaan itu dan ia khawatir atas dirinya jika ia berpuasa di siang hari, maka ia boleh berbuka sekadar kebutuhannya dan wajib berpuasa pada sisa hari yang ada setelah ia bekerja, kemudian di bulan yang lain ia wajib mengqadha.

  • Lapar dan Haus yang sangat

Dalam keadaan seseorang sangat lapar dan sangat kehausan, sehingga jika ia berpuasa ia dapat meninggal dunia, maka ia wajib berbuka dan ia wajib untuk mengqadha.

  • Jihad di jalan Allah

Diperbolehkan juga bagi orang yang berjihad di jalan Allah untuk berbuka. Hal ini juga pernah difatwakan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah untuk pasukan kaum muslimin tatkala mereka menghadapi musuh di Damaskus.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Tidak dinyatakan batal puasanya orang yang melakukan salah satu dari hal-hal yang membatalkan puasa kecuali jika ia:

  1. Mengetahui hukum tersebut dan mengetahui waktu. Maka orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena ia tidak mengetahui, tidak batal puasanya. Begitu pun bagi orang yang melakukan perkara yang membatalkan puasa karena tidak mengetahui bahwa waktu itu adalah waktu sudah masuk puasa. Seperti orang yang makan atau minum setelah fajar karena menyangka belum datang fajar.
  2. Ingat dan tidak lupa. Maka orang yang makan atau minum karena pula, puasanya tidak batal.
  1. Secara sengaja melakukannya. Maka orang yang tidak sengaja masuk sesuatu ke dalam rongga kerongongannya, juga tidak batal puasanya. Begitu juga orang yang dipaksa untuk berbuka. 

a. Makan dan Minum secara sengaja.

b. Keluar mani dengan cara masturbasi, bercumbu, dan berulang kali melihat sesuatu yang dapat membangkitkan syahwatnya. Adapun jika karena memikirkannya, maka ia tidak membatalkannya.

c. Muntah dengan sengaja.

d. Keluar darah haidh dan nifas.

e. Gila dan pingsan.

f. Jimak atau melakukan hubungan suami istri.

Jika terjadi kepada seseorang hal-hal yang membatalkan puasa diatas, maka ia wajib untuk mengqadha puasanya di bulan yang lain. Khusus untuk jimak, maka selain qadha, ia diharuskan menunaikan kaffarah. Memerdekakan budak, puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan enampuluh orang miskin.

Yang Diperbolehkan Saat Berpuasa

  1. Mengakhirkan mandi hingga waktu fajar datang bagi orang yang junub atau wanita yang baru selesai haidh atau nifas.
  2. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya.
  3. Mandi untuk menyegarkan badan.
  4. Mencicipi makanan jika perlu untuk melakukannnya.
  5. Mencium atau bercumbu dengan pasangan bagi yang merasa mampu menguasai dirinya.
  6. Memakai wangi-wangian atau menghirup bau.
  7. Bersiwak atau gosok gigi menggunakan pasta gigi.
  8. Menggunakan celak.
  9. Menggunakan obat tetes mata.
  10. Menggunakan obat tetes telinga.

Adab-Adab Puasa

Selain hal-hal yang wajib kita lakukan saat berpuasa, kita juga dianjurkan untuk menjaga etika atau adab-adab pada saat kita berpuasa. Tujuannya, agar kita dapat benar-benar secara maksimal meraih pahala dari ibadah puasa yang kita lakukan. Sangat disayangkan, jika dari bulan Ramadhan yang sangat istimewa itu kita ternyata tidak meraih banyak pahala.

Begitupun, dengan menjaga adab-adab puasa, kita dapat mempertahankan pahala puasa tersebut, karena kita bisa kehilangan pahala puasa kita, akibat dari tidak menjaga adab-adab puasa kita.

Diantara adab-adab tersebut adalah:

  • Menyegerakan berbuka.

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa, tatkala sudah benar-benar dipastikan bahwa matahari telah terbenam, ia segera berbuka.

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan selalu mendapatkan kebaikan, selama ia membiasakan untuk bersegera saat berbuka.” (HR Bukhari Muslim)

  • Makanan berbuka yang disunnahkan.

Disunnahkan berbuka dengan kurma basah, atau kurma kering, atau air.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka sebelum melaksanakan shalat dengan beberapa butir kurma basah (ruthab), jika tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa butir kurma kering (tamr), jika tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa teguk air.” (HR Ahmad)

  • Makan sahur

Sahur adalah makanan yang dimakan pada akhir malam menjelang waktu fajar bagi orang yang siang harinya hendak bepuasa.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah kalian, sesungguhnya pada makanan sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari Muslim)

Keberkahan yang akan kita dapat dari makan sahur ditinjau dari beberapa sisi, diantaranya:

  1. Ittiba’ (mengikuti) sunnah.
  2. Menyelisihi ahli kitab. Karena perbedaan antara puasa kita dan ahli kita terletak pada makan sahur. (HR Muslim)
  3. Sebagai persiapan untuk melaksanakan suatu ibadah.
  4. Menambah semangat dalam beribadah.
  5. Mencegah akhlak yang buruk yang dapat disebabkan karena rasa lapar yang berlebihan.
  6. Menyediakan waktu untuk berzikir, bersitighfar dan berdoa di waktu yang mustajab, karena waktu sahur (akhir malam) adalah waktu dikabulkannya doa.
  7. Waktu berniat bagi yang belum berniat pada malam harinya.
  • Mengakhirkan waktu sahur

Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga dekat dengan terbit fajar, pada batas tidak dikhawatirkan fajar akan terbit disaat makan sahur belum selesai.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Zaid bin Tsabit meneritakan kepadanya, bahwa mereka makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian setelah itu mereka shalat.” Aku (Anas) berkata, “Berapa jarak waktu antara keduanya?” ia menjawab, “Sekitar selama seseorang membaca 50 ayat.” (HR Bukhari Muslim)

Ibnu Hajar berkata, “Maksudnya adalah 50 ayat yang sedang, tidak panjang dan tidak pendek, tidak terlalu cepat dan tidak lambat.” (Fathul Bary 1/367)

  • Menjauhi maksiat

Diantara adab saat kita berpuasa yang sangat penting adalah menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan saat kita berpuasa. Tujuan utama disyariatkannya ibadah puasa adalah ketakwaan. Dan takwa itu sendiri berarti mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Jika saat kita berpuasa masih suka bermaksiat, berbuat buruk dan melanggar aturan Allah, maka apa yang menjadi tujuan puasa itu sendiri tidak tercapai. Karenanya, Allah tidak membutuhkan lagi puasa seorang hamba, jika perbuatan dan perkataannya buruk.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan buruk, perbuatan buruk dan kebodohan, maka Allah tidak butuh lagi kepada ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR Bukhari)

  • Menyibukkan diri dengan ketaatan

Dalil-dalil syar’i menunjukkan bahwa segala kebaikan akan dilipatgandakan dengan pelipatgandaan yang sangat banyak di waktu-waktu istimewa seperti Ramadhan dan yang lainnya.

Karenanya, sangat dianjurkan bagi orang yang tengah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, selain meninggalkan perkara yang mubah dan hal-hal yang diharamkan, ia juga menyibukkan dirinya dengan beragam ketaatan yang disyariatkan, baik pada siang hari atau malam harinya. Diantaranya:

  • Membaca al Qur`an.
  • Memperbanyak zikir.
  • Berdoa.
  • Berbuat kebaikan kepada orang lain dengan sedekah, memberi makan orang berbuka, bersilaturahmi, tolong menolong dalam kebaikan dan lain-lain.
  • Melakukan shalat tarawih secara berjamaah.
  • Dll

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info