Back to top

Catatan Kecil: Keunggulan Ushul Malikiyyah

Dulu, saat masih bermajlis dengan Syaikh Sa’ad Syatsry saya kerap mendengar dari beliau bahwa termasuk madzhab Malik adalah menolak hadis ahad jika bertentangan dengan qiyas. Saya sempat heran, Imam Malik adalah “Pentolan” madrasah Tradisionis (Ahl Hadis) di Madinah, rival dari madrasah rasionalis (Ahl Ra`yi) di Baghdad dalam kajian fiqih. Kok bisa berpendapat demikian?

Ternyata, beberapa diskursus usul fiqih yang dianut oleh Imam Malik menunjukkan bahwa beliau, kendati dikenal memiliki atensi yang sangat besar terhadap hadis, namun juga mendukung sumber-sumber ijtihad yang cukup luas. Bahkan, Istishlaah (pertimbangan kepentingan publik) diidentifikasi sebagai doktrin Maliki. Selain konsesus ahli madinah dan konsep sadd dzara’i.

Belakangan saya juga membaca kutipan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang menilai, “Usul Malik dalam bab jual-beli lebih unggul dari usul yang lainnya. Karena beliau telah mempelajarinya dari Sa’id bin Musyyab, yang dikenal sebagai tokoh yang paling faqih dalam bab jual-beli, seperti Atho yang paling faqih dalam bab manasik, Ibrahim An Nakha’i yang paling faqih dalam bab shalat. Adapun al Hasan, beliau yang paling menguasai semua bab itu.”

Tentu kita tahu bahwa bab mu’amalat lebih sering mengandaikan pendalaman pada sumber-sumber ijtihad di luar sumber tekstual al Qur`an dan Sunnah. Dan Malik ternyata mengungguli hampir semua madzhab termasuk Hanafi.

Yang jelas, saya jadi terpacu, selain terus belajar hadis, kita juga membutuhkan kajian-kajian usul fiqih.

Wallahu waliyyut Taufiq..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info