Back to top

Kedudukan Perkataan Sahabat Dalam Syari’ah

123918833b4d3525e1ace0b5498e7db2d10e2ebcSiapa itu sahabat?

Menurut ahli hadis, sahabat adalah seseorang yang pernah menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun hanya sesaat, beriman kepadanya dan wafat dalam keadaan Islam.

Sementara menurut kalangan ulama usul, sahabat adalah orang yang bergaul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan intensitas yang cukup lama.

Nampak ada perbedaan pendefinisian sahabat antara ahli hadis dan ulama ushul. Hal ini ditengarai karena ahli hadis memandang sahabat dengan kapasitas mereka sebagai narator (perawi) hadis. Sehingga bagi mereka, cukup bagi seseorang sekedar pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, walau pun sebentar, dianggap kredibel untuk sekedar menyampaikan informasi dari beliau.

Sementara ulama ushul memandang sahabat dengan kapasitas mereka sebagai mujtahid dan ahli fikih, serta penafsir al Qur`an dan Sunnah, dimana kompetensi itu tidak bisa dihasilkan kecuali oleh orang yang benar-benar melazimi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengambil ilmu dan akhlak beliau.

Perkataan sahabat dapat diklasifikasi menjadi:

  • Perkataan sahabat dalam urusan yang tidak termasuk ranah ijtihad. Ia dianggap berstatus datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Marfu’).
  • Pendapat sahabat yang diselisihi oleh pendapat sahabat yang lain. Dalam kasus ini, dilakukan tarjih atas pendapat yang lebih kuat (Tarjih).
  • Pendapat sahabat yang popular dan tidak diselisihi oleh sahabat yang lain. Ini termasuk salah satu jenis konsesus mereka (Ijmak Sukuti).
  • Pendapat murni sahabat, dalam urusan ijtihad, tidak populer dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihinya. Masalah ini yang menjadi perselisihan para ulama.

    Pertama: Ia adalah hujjah. Ini pendapat Malik, Abu Hanifah, Asy Syafii dalam salah satu pendapatnya, dan Ahmad dalam salah satu riwayat. Ia juga pendapat Ibnul Qayyim rahimahullah.

    Kedua: Ia bukan hujjah. Ini adalah pendapat Asy Syafii dalam qaul jadidnya. Ini juga pendapat yang dipilih oleh Al Ghazali, Ibnul Hajib dan al Amidy rahimahumullah.

(Tashil al Ushul Ila al Risalah al Mukhtasharah fi al Ushul, hal. 100 – 103, Syaikh Dr. Abdullah al Fauzan hafidzahullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info