Back to top

Sekilas Tentang Madzhab Syafi’i dan Hadis

Sejumlah kitab yang saat ini berjejer menghiasi rak buku saya (masih menunggu dengan setia untuk ditelaah), sebagiannya adalah hasil perburuan selama di Riyadh. Alhamdulillah, kitab-kitab itu saya dapatkan secara gratis. Diantaranya, Fatawa Lajnah Da’imah 10 jilid, Fatawa Nur ‘ala Ad Darb 20 jilid, Zaad al Ma’ad 5 jilid, al Mufashshol fi Ahkam al Mar`ah wal Bait al Muslim 11 jilid, Abhats Haiah Kibar Ulama 5 jilid, dan masih banyak yang lainnya.

Namun ada yang mungkin layak disesalkan, kitab Sunan Kubra` sebanyak 24 jilid karya Imam Abu Bakr Ahmad bin al Husain al Baihaqy (w. 458) rahimahullah, tahqiq DR. Abdullah bin Abdulmuhsin Turky hafizahullah yang juga dibagikan secara gratis oleh Rabithah Alam Islamy gagal saya dapatkan. Pasalnya, kitab itu dibagikan khusus untuk Mahasiswa pasca sarjana. Sempat melakukan upaya untuk mendapatkan kitab itu dengan secarik rekomendasi dari kantor dakwah tempat saya bekerja, namun tidak mempan. Qadarullaah wa maa syaa`a fa’al.

Imam al Baihaqy, diantaranya melalui kitab Sunan Kubra` itu disebut-sebut orang yang paling berjasa dalam Madzhab Syafi’i. Abul Ma’aly al Juwainy (w. 478) rahimahullah pernah membuat pernyataan, “Setiap faqih syafi’i mendapat jasa dari Asy Syafi’i, kecuali Abu Bakr al Baihaqy, ia justru yang berjasa kepada Asy Syafi’i, karena karya-karyanya dalam membela madzhab syafi’i.”

Pernyataan diatas dinukil oleh Imam Adz Dzahaby dalam Siyar (18/168) dengan afirmasi, yaitu karena al Baihaqy banyak menulis karya dalam dalil-dalil madzhab, seperti Sunan Kubra` dan yang lainnya. Beliau juga mengatakan, “Tidak ada yang seperti karya itu.”

Madzhab syafi’i mendapat khidmat yang cukup besar dari pada ulama penganutnya. Karenanya ia -dengan taufiq dari Allah- menjadi salah satu madzhab raksasa dengan jumlah penganut yang sangat banyak hampir di seluruh negeri Islam. Diantara khidmat yang dilakukan para ulama madzhab adalah dengan cara mengumpulkan dalil-dalil haditsiyyah madzhab, untuk membuktikan bahwa Asy Syafi’i membangun madzhab fiqihnya di atas dalil yang valid.

Selang 2 abad lebih, Imam Muhyiddin An Nawawi (w. 676) rahimahullah juga dikatakan sebagai faqih syafi’i yang sangat berjasa dalam dalil-dalil haditsiyyah madzhab. Seperti yang diungkapkan oleh Az Zein al ‘Iraqy (w. 807) dalam Takhrij Ihya`,

“Tradisi mutaqaddimin (ulama syafi’i terdahulu) adalah kerap tidak menjelaskan tentang hadis-hadis yang terdapat dalam karya mereka, dari sisi shahih dan dhaifnya, kecuali sedikit. Padahal mereka termasuk para imam dalam hadis. Namun, mereka memang mengikuti tradisi para fuqaha sebelumnya. Hingga datanglah Syaikh Muhyiddin An Nawawi yang kerap membahas hadis-hadis yang ada dalam karya-karya beliau, menyebutkan siapa yang meriwayatkannya, dan mengkritisinya dari sisi shahih dan dhaifnya.”

[Ref: Muqaddimah Tahqiq wa Ta’liq Minhaj al Thalibin, DR. Ahmad bin Abdulaziz al Haddad, Cet. Dar al Basya`ir al Islamiyyah]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info