Back to top

Sebelum Dimuliakan, Mereka Diuji

Kisah para pengusung kebenaran tidak pernah sunyi. Dibalik popularitas dan decak kagum manusia atas mereka karena ilmu yang terabadikan dalam karya-karya besar mereka, atau terekam dan disebarkan oleh murid-murid mereka, tersimpan kisah perjuangan yang tidak ringan.

Tidak jarang, perjuangan itu hingga harus berdarah-darah. Seperti itulah memang jalannya. Allah selalu menguji para pembawa kebenaran, justru untuk kemudian memuliakannya.

Imam Malik bin Anas rahimahullah, dimusuhi oleh orang-orang yang tidak sejalan dengannya dan para penguasa. Namun setelah itu Allah menyebarkan madzhabnya, sehingga perkataan-perkataannya tersebar di seantero negeri.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, diberikan ujian yang luar biasa. Dipukul sangat keras di hadapan Mu’tashim, Khalifah Bani Abbasiyah. Para penguasa berkali-kali ingin membunuhnya, mereka memenjarakannya di tempat-tempat yang gelap dan mencambuknya dengan besi. Beragam siksa mereka timpakan kepada sang Imam. Namun Allah pun menyebarkan ilmunya. Kesudahan yang baik Allah berikan untuknya. Setelah berbagai siksaan tersebut, ia menjadi Imam Dunia tanpa perselisihan dan marji (rujukan) para ahli ilmu. Orang-orang senantiasa mencatat perkataannya dan mendapat manfaat darinya. Apa pun yang diucapkannya langsung tersebar ke seantero dunia.

Imam Muhammad bin Ismail al Bukhari rahimahullah, diuji oleh Muhammad bin Yahya al Dzuhaly dan para pengikutnya. Namun kemudian Allah menjadikan kitabnya al Jami’ al Shahih sebagai kitab yang paling shahih dan paling populer dalam bidang hadis, bahkan rujukan penting dalam Islam.

Imam Ibnu Hazam al Maghriby, diuji dengan ujian yang sangat berat karena mengajak manusia untuk mengikuti dalil, membela kebenaran dan melemahkan ilmu ra`yi. Hingga hal itu membuat para penguasa memusuhinya, mengusirnya dari negeri-negeri mereka dan membakar karya-karyanya. Namun Allah pun justru menyebarkan ilmu-ilmunya, hingga berada dalam setiap kelompok, di setiap negeri kaum muslimin.

Syaikhul Islam Taqiyyuddin, Ahmad bin Abdulhalim Ibnu Taimiyyah, tatkala ia menjelaskan kepada manusia rusaknya ra`yu (pendapat yang hanya didasarkan pada akal), mengajak mereka untuk berpegang teguh kepada dalil, membela kebenaran yang Allah peritahkan tanpa ada rasa takut kepada celaan orang yang mencelanya di jalan Allah, bangkitlah orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu di kalangan para pemegang jabatan dan yang lainnya untuk berusaha menyerahkannya kepada para penguasa (untuk dihukum). Tidak terhitung majlis diskusi mereka adanya dengannya. Terkadang mereka memfatwakan agar ia dibunuh, atau diusir, atau ditangkap.

Namun Allah menyebarkan faedah-faidah ilmunya tanpa ada seorang pun di masanya yang dapat menandinginya. Hingga baik orang-orang yang sejalan dengannya dan orang-orang yang memusuhinya pun membuat tulisan biografinya. Setelah itu, walaupun orang-orang berselisih tentang kedudukannya, namun semua orang mengakui kehebatannya.

Inilah sekelumit hikmah, agar dengannya kita mengetahui apa yang Allah lakukan kepada para hamba-Nya, para ulama dalam agama-Nya dan para pengusung hujjah-Nya. Dan disetiap zaman, akan ada orang-orang yang seperti ini.

Disarikan dari tulisan Imam Asy Syaukani rahimahullah dalam Adab al Thalab wa Muntaha al Arb, hal. 33-36, dinukil dari “Qaala Asy Syaukani.” Hal. 111-113.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info