Back to top

10 Prinsip Muslim dalam Masalah Harta

18569_217223143238_199473673238_2716813_3841632_nAda beberapa prinsip yang seharusnya ditanamkan oleh seorang muslim dalam dirinya terkait dengan harta, agar dengannya ia memiliki cara pandang yang benar dan mampu menghindari hal-hal yang menyimpang dalam urusan harta. Diantara prinsip itu adalah sebagai berikut:

Pertama: Ingatlah bahwa harta kelak di hari kiamat termasuk sesuatu yang akan dimintai pertanggungjawaban.

لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ ؟ وَعَنْ عِلمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أيْنَ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفيمَ أنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ جِسمِهِ فِيمَ أبلاهُ ؟ رواه الترمذي ، وَقالَ : حديث حسن صحيح

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya dulu tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan? Tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan? Tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan?” (HR Tirmidzi, ia berkata: Hadis hasan shahih)

Kedua: Ingatlah bahwa yang terpenting dari harta itu adalah keberkahannya. Dan harta yang akan berkah itu hanya harta yang didapatkan dengan cara yang halal.

فَمَنْ يَأْخُذْ مَالاً بِحَقِّهِ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَمَنْ يَأْخُذْ مَالاً بِغَيْرِ حَقِّهِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ

“Siapa saja yang mengambil harta dengan haknya, ia akan diberkahi padanya. Dan siapa saja yang mengambil harta tanpa haknya, maka perumpamaannya adalah seperti orang yang terus makan dan tidak pernah kenyang.”

Ketiga: Ingatlah bahwa pemilik harta sebenarnya adalah Allah. Kepemilikan manusia terhadapnya bersifat amanah. Maka harta hanya dapat dipergunakan sesuai dengan keridhaan pemilik sebenarnya, yaitu Allah azza wa jalla.

وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ

“Dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” (QS. An Nur: 33)

وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” (QS. Al Hadid: 7)

Yang dimaksud dengan menguasai di sini ialah penguasaan yang bukan secara mutlak. Hak milik pada hakikatnya ada pada Allah. Maka dalam membelanjakan hartanya itu, manusia haruslah mengikat diri dengan hukum-hukum yang telah disyariatkan Allah. Karena itu juga ia tidak boleh kikir dan juga tidak boleh boros.

Keempat: Ingatlah bahwa dengan cara apapun, Islam melarang manusia mensia-siakan harta.

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : إنَّ اللهَ تعالى يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثاً ، ويَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثاً : فَيَرْضَى لَكُمْ أنْ تَعْبُدُوهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيئاً ، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُوا ، وَيَكْرَهُ لَكُمْ : قِيلَ وَقَالَ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ ، وإضَاعَةَ المَالِ. رواه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala ridha kepadamu dalam tiga perkara dan benci kepadamu dalam tiga perkara: Dia ridha kepadamu jika kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, kamu berpegang teguh kepada tali Allah semuanya dan kamu tidak berpecah belah. Dia benci jika kamu suka dengan “katanya dan katanya”, terlalu banyak bertanya dan mensia-siakan harta.” (HR Muslim)

Kelima: Ingatlah bahwa harta bukanlah tujuan utama, ia adalah wasilah kepada kebaikan dan kemaslahatan, untuk didayagunakan dalam hal-hal yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Termasuk untuk digunakan dalam rangka membela agama.

وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ

“…dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya.” (QS. An Nisa: 95)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi.” (QS. Al Anfal: 72)

Keenam: Ingatlah bahwa harta seorang muslim itu terhormat, tidak boleh diambil kecuali dengan keridhaan, kerelaan hati pemiliknya dan cara yang hak.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS. An Nisa: 29)

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Tidak halal harta seseorang (diambil) kecuali dengan kerelaan hati darinya.” (HR Ahmad)

مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ وَهْوَ فِيهَا فَاجِرٌ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَقِىَ اللَّهَ وَهْوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

“Barangsiapa yang bersumpah dan ia berniat jahat untuk mengambil dengan sumpah itu harta seorang muslim, maka ia kelak akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” (HR Bukhari)

Ketujuh: Ingatlah bahwa sedekah tidak mengurangi harta, namun justru menambahnya.

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَال

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR Muslim)

Kedelapan: Ingatlah bahwa ada kewajiban untuk mengeluarkan sebagian harta yang telah ditetapkan syarat-syarat dan aturannya dalam Islam, yaitu zakat.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat.” (QS. Al Baqarah: 43)

عن ابن عمر رضي الله عنهما ، قَالَ : قال رَسُول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : بُنِيَ الإسْلامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أنْ لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ ، وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَحَجِّ البَيْتِ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ  متفقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun diatas lima perkata: Syahadat bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke baitullah dan puasa ramadhan.” (HR Bukhari Muslim)

Kesembilan: Ingatlah bahwa manusia memang diberikan kecenderungan untuk mencintai harta. Cinta harta pada batas tertentu diperbolehkan. Cinta harta yang tercela adalah yang melampaui batas.

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“Dan Sesungguhnya Dia sangat kuat cintanya kepada harta.” (QS. Al Adhiyat: 8)

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24)

Kesepuluh: Ingatlah bahwa harta adalah fitnah, ia hadir dalam kehidupan manusia diantaranya untuk menjadi ujian.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At Taghabun: 15)

Allahu A’lam, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info