Back to top

Cara Membersihkan Diri Dari Harta Haram Setelah Bertobat

المالHarta haram memiliki bentuk dan kondisi yang berbeda-beda. Diantara bentuknya adalah:

  1. Haram secara dzatnya
  2. Haram karena cara mendapatkannya
  3. Didapatkan dengan kerelaan pemberinya
  4. Didapatkan dengan tanpa kerelaan pemberinya
  5. Orang yang mendapatkan harta haram itu mengetahui keharamannya
  6. Orang yang mendapatkan harta haram itu tidak mengetahui keharamannya

Masing-masing dari bentuk dan kondisi harta haram itu memiliki hukum tersendiri.

Pertama: orang yang mendapatkan harta haram secara dzatnya. Yaitu jenis harta yang dilarang oleh syariat untuk diperjual-belikan, dimiliki dan digunakan dengan cara apa pun juga. Harta haram jenis ini tidak dikembalikan kepada pemiliknya dan juga tidak boleh diambil. Wajib untuk dimusnahkan dan tidak boleh dimanfaatkan dalam bentuk apapun seperti menjualnya, membelinya, menghadiahkannya atau memilikinya.

Yang dimaksud dengan harta haram secara dzatnya adalah, “setiap barang yang keharamannya terkait dengan dzatnya itu sendiri.” Seperti:

  1. Arak dan obat-obatan terlarang
  2. Berhala dan patung-patung makhluk bernyawa
  3. Babi
  4. Bangkai
  5. Alat musik
  6. Dll

Kedua: orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang haram dan tanpa seizing atau kerelaan pemiliknya. Seperti:

  1. Harta curian
  2. Harta rampasan
  3. Korupsi
  4. Harta hasil penipuan
  5. Harta riba yang diberikan pemberinya karena terpaksa
  6. Harta hasil suap yang diberikan pemberinya karena terpaksa dalam rangka mendapatkan haknya.
  7. Dll

Harta haram jenis ini wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Karena hakikatnya, yang mendapatkan harta itu bukanlah pemilik sebenarnya. Ia tidak bebas dari tanggungjawab kecuali dengan cara itu. Jika harta itu telah habis terpakai, maka ia menjadi utang yang berada dalam tanggungannya sampai ia mampu untuk mengembalikannya kepada pemiliknya.

Imam Ibnul Qayyim berkata,

“Apabila harta itu didapatkan tanpa ada kerelaan dari pemberinya dan ia tidak mendapatkan apa-apa sebagai gantinya. Maka, harta itu wajib dikembalikan. Jika tidak bisa, ia bayarkan dengan harta yang lain sebagai utang. Jika tidak bisa, ia berikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa, ia sedekahkan atas nama pemiliknya.” (Zaad al Ma’aad: 5/690)

Ketiga: orang yang mendapatkan harta haram dengan bentuk muamalat yang haram karena kebodohannya, atau kerena ia meyakini kebolehannya berdasarkan fatwa dari seorang alim yang terpercaya dalam pandangannya. Dalam kasus seperti ini, tidak ada kewajiban apa-apa baginya, dengan syarat ia segera berhenti dari aktifitas haram tersebut setelah mengetahui keharamannya. Hal ini berdasarkan firman Allah (yang artinya),

“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu.” (QS. Al Baqarah: 275)

Syaikhul IslamIbnu Taimiyyah berkata, “Adapun perkara yang tidak ada keraguan bagi kami adalah, harta yang diambil karena takwil atau kebodohan, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu tanpa ada keraguan, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh al Qur`an, Sunnah dan Qiyas.”

Keempat: orang yang mendapatkan harta dengan cara yang haram dan dia mengetahui keharamannya, namun ia menerimanya dengan izin dan kerelaan pemberi. Seperti:

  1. Yang didapatkan dengan akad-akad tidak sah seperti gharar
  2. Upah pekerjaan haram seperri karyawan bank atau perusahaan beer
  3. Keuntungan dari bisnis haram
  4. Upah jasa haram seperti menjadi saksi palsu, penulis transaksi riba
  5. Mendapat uang suap dari orang yang memberinya dalam rangka mengambil sesuatu yang bukan haknya
  6. Mendapatkan harta hasil judi, perdukunan atau pelacuran
  7. Dll

Harta haram jenis ini, tidak dikembalikan kepada pemiliknya menurut pendapat yang lebih kuat. Ibnul Qayyim berkata, “Jika harta itu diambil dengang kerelaan pemberinya dan ia telah mendapatkan sesuatu yang diharamkan sebagai gantinya itu, seperti khamar atau babi, atau perbuatan zina. Maka yang seperti ini tidak wajib dikembalikan kepada pemberinya, karena ia mengeluarkannya dengan kehendaknya sendiri dan ia pun telah mendapatkanya apa yang diinginkannya sebagai ganti dari apa yang diberikannya.”

Namun, menurut banyak para ulama, seseorang harus mengeluarkan harta haram tersebut dengan cara menyedekahkannya kepada fakir miskin atau kepentingan-kepentingan umum. Kalau sudah terpakai, maka itu menjadi utang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa yang mengambil harta atas penjualan barang haram atau jasa, seperti upah pengangkutan khamar atau upah pembuatan salib, atau upah pelacur, maka hendaknya ia menyedekahkannya serta bertobat dari pekerjaannya tersebut. Sedekahnya itu menjadi penghapus dosa yang telah dilakukannnya. Harta tersebut tidak boleh dimanfaatnya, karena ia adalah harta yang kotor, juga tidak dikembalikan, karena pemberinya telah mendapatkan apa yang ia inginkan dari pemberian harta itu.” (Majmu’ al Fatawa: 22/142)

Ibnul Qayyim cenderung berpendapat jika orang yang bertobat tersebut membutuhkan harta itu, maka ia boleh menggunakannya sesuai dengan kebutuhannya. Namun jika ia berkecukupan, ia harus menyumbangkannya seperti yang telah dijelaskan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah cenderung memilih pendapat yang lain, bahwa orang yang bertobat itu boleh memanfaatkan harta tersebut dan tidak perlu menyumbangkannya, selama ia benar-benar telah bertobat.

Kesimpulannya, jika orang yang bertobat tersebut kaya raya, berkecukupan, mampu untuk membebaskan diri dari harta ini, dan hatinya rela, ia dianjurkan untuk menyumbangkannya kepada fakir miskin, sebagaimana pendapat mayoritas para ulama. Karena itu lebih membebaskan tanggungan dan lebih selamat bagi agama.

Namun jika hatinya merasa berat untuk melakukannya, apalagi akan menghalanginya dari tobat dan menjadi beban, atau karena ia miskin dan membutuhkan kepada harta, maka ia diperbolehkan menggunakan harta tersebut, sebagaimana ini pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Wallahu A’lam.

Tulisan diatas disarikan dari: https://islamqa.info/ar/219679

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info