Back to top

Gaya Hidup Seorang Muslim

DR. Zaid bin Muhammad Ar Rummany hafidzahullah menjelaskan ada lima pola hidup manusia:

Pertama: adil dan pertengahan.

Sikap ini berada diantara berlebih-lebihan dan kikir, antara berhias dan berhati-hati. Kebanyakan manusia tidak memilih cara hidup seperti ini, karena mereka cenderung untuk  berhias diri, dan sebagiannya malah terjatuh pada cara hidup mewah dan boros. Pola hidup ini Allah jelaskan dalam Al Qur`an,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan [25]: 67)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Makanlah, minumlah, bersedekahlah dan berpakaianlah tanpa berlebih-lebihan dan sombong.” (HR Ahmad dan Nasa`i)

Kedua: berhias.

Berhias dan bersenang-senang dengan nikmat-nikmat Allah diperbolehkan dalam Islam. Allah berfirman,

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha [93]: 11)

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al A’raf [7]: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas-bekas nikmat-Nya atas hamba-Nya.” (HR Tirmidzi, hadis hasan)

Menceritakan nikmat-nikmat Allah dan hidup dalam kesenangan bukan sesuatu yang terlarang, selama berada dalam batasannya, sehingga tidak terjatuh pada sikap berlebihan yang terlarang.

Ketiga: zuhud.

Zuhud merupakan pola hidup yang terpuji dalam Islam. Namun hanya sedikit yang mampu melakukannya. Pemimpin ahli zuhud adalah para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu. Dalam pola hidup ini, seseorang harus rela berkorban dunia dan kesenangannya, serta mendahulukan orang lain atas diri sendiri. Allah berfirman,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al Hasyr [59]: 9)

Keempat: kikir dan tamak.

Pola hidup kikir diharamkan dalam Islam. Sebagian orang bahkan kikir kepada dirinya sendiri, hingga menjauhkan dirinya dari hal-hal yang primer untuk kehidupannya. Allah berfirman,

“Dan siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri.” (QS. Muhammad [47]: 38) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhi olehmu sifat tamak, sesungguhnya orang-orang selelum kalian binasa disebabkan karena tamak. Sifat itu telah memerintahkan mereka untuk berbuat kikir dan mereka pun kikir. Sifat itu juga telah memerintahkan mereka berbuat buruk dan mereka pun berbuat buruk.” (HR Abu Dawud)

Kelima: boros dan bermegah-megahan.

Hal ini sangat diharamkan dalam Islam. Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al An’am [6]: 141)

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isra` [17]: 26-27)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya diantara orang terburuk di kalangan umatku adalah orang berlebihan dalam kenikmatan, orang-orang yang senantiasa mencari beragam makanan dan bermacam pakaian, serta bermulut besar.” (HR Ahmad dan Hakim)

Prinsip Ekonomi Seorang Muslim 

Melalui prinsip-prinsip yang diperintahkannya, Islam menerapkan pendidikan ekonomi yang efektif untuk menjadikan seorang muslim tetap berada pada koridor yang dibenarkan dalam menjalani kehidupannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi pengajaran-pengajaran yang sempurna kepada umatnya agar mereka hidup dengan terhormat dan berwibawa. Berikut adalah prinsip-prinsip yang beliau ajarkan:

Prinsip pertama: Kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa

Dalam hadis Abu Dzar al Ghifary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Apakah engkau menganggap bahwa banyaknya harta merupakan kekayaan?” Abu Dzar berkata, “Iya.” Beliau bersabda, “Apakah engkau juga menganggap bahwa sedikit harta merupakan kemiskinan?” Abu Dzar berkata, “Iya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kekayaan itu adalah kekayaan hati dan kemiskinan itu adalah kemiskinan hati.” (HR Ibnu Hibban dishahihkan al Albani)

Prinsip kedua: Menjaga kehormatan

Dalam hadis Abu Sa’id al Khudry radhiyallahu ‘anhu, “Sekelompok orang-orang Anshar meminta sesuatu kepada Rasulullah, beliau lalu memberinya, kemudian mereka meminta lagi dan beliau memberinya, sampai beliau tidap punya apa-apa lagi untuk diberikan. Beliau bersabda, “Andai aku masih memiliki sesuatu, niscaya aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Namun, barangsiapa yang menjaga kehormatannya, Allah akan menjaganya. Barangsiapa yang merasa cukup, Allah akan mencukupinya. Dan barangsiapa yang berusaha untuk bersabar, Allah akan menyabarkannya.” (HR Bukhari)

Prinsip ketiga: Etos kerja tinggi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang diantara kalian mengambil talinya, kemudian datang memanggul kayu bakar dan menjualnya, dengannya ia menjaga kehormatannya, hal itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia, mereka memberinya atau tidak memberinya.” (HR Bukhari)

Prinsip keempat: Hidup sesuai kebutuhan dan kemampuan

Dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu tempat tidur untuk seorang laki-laki, satu tempat tidur untuk istrinya, tempat tidur yang ketiga untuk tamu dan tempat tidur yang keempat untuk setan.” (HR Muslim)

Prinsip kelima: Suka berbagi

Dalam hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah, tangan diatas adalah yang memberi dan tangan dibawah adalah yang meminta.” (HR Muslim)

Prinsip keenam: Tidak sombong

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. Al Baqarah [2]: 264)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak akan melihat pada hari kiamat kepada orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong.” (Muttafaq alaih)

Prinsip-prinsip diataslah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan gaya hidup. Hendaknya kita sebagai seorang muslim dan muslimah menerapkannya dalam kehidupan kita. Jika prinsip-prinsip diatas dapat kita jaga, maka kehidupan yang baik akan kita rasakanز

Wallahu a’lam.

[Disadur dari makalah DR. Zaid bin Muhammad Ar Rummany berjudul, “Mu’alajatu Dhahirati al Israf wa al Tabdir.” Sumber: alukah.net]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info