Back to top

10 Perkara Yang Hendaknya Kita Perhatikan Dalam Urusan Utang Piutang

maxresdefaultUtang-piutang merupakan salah satu bentuk muamalat yang diperbolehkan oleh syariat. Dari sejak dulu, baik utang berupa pinjaman (qardh) atau jual beli tidak tunai (kredit), telah dilakukan oleh manusia karena padanya terdapat hajat. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bahkan juga melakukannya. Beliau wafat dan baju perangnya tergadai pada seorang Yahudi karena utang makanan pokok.

Namun, dalam persoalan utang-piutang ini, ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan:

Pertama: Hendaknya tidak bermudah-mudahan dalam masalah utang. Selalu melampiaskan keinginan dengan cara berhutang adalah kebiasaan yang tidak baik dan bentuk membebani diri sendiri. Jika ingin berhutang, pertimbangkanlah matang-matang bahwa hal itu dilakukan atas dasar kebutuhan, bukan sekedar untuk menuruti nafsu hedonis. Jauhilah kredit seperti kita menjauh terkaman singa.

Sekalipun berhutang adalah mubah, namun ia juga adalah beban yang bisa sampai ke akhirat. Hadirkanlah dalam hati hadis-hadis berikut sebelum mengambil keputusan untuk berhutang,

نَفْسُ المُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضى عَنْهُ

“Jika seorang mukmin tergantung dengan utangnya, sampai ia dilunasi.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadis hasan)

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Akan diampuni seluruh dosa orang yang mati syahid, kecuali utang.” (HR Muslim)

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, andai seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian ia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, lalu dihidupkan lagi dan terbunuh lagi dalam keadaan ia memiliki utang, maka ia tidak akan masuk surga hingga utangnya dibayarkan.” (HR An Nasai)

Kedua: Utang juga dapat menjerumuskan seseorang kepada sifat buruk dan kehinaan, seperti yang dijelaskan dalam hadis berikut,

Dari Urwah, bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa dalam shalatnya dengan doa,

 اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari dosa dan utang.”

Seseorang bertanya kepada beliau, mengapa Anda sering memohon perlindungan dari utang wahai Rasulullah? Beliau bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

“Sesungguhnya seseorang jika berhutang, ia suka berbicara dusta dan inkar janji.” (HR Bukhari Muslim)

Ketiga: Jika ingin berhutang, hindarilah utang yang mengandung riba. Yaitu utang yang mengandung persyaratan tambahan (bunga) dari pokoknya, baik karena alasan tertentu atau tidak. Sekalipun persentase bunganya hanya sedikit, ia tetap haram dan harus dihindari, karena riba hukumnya haram, baik sedikit atau pun banyak. Termasuk utang yang mengandung riba adalah utang yang mengandung persyaratan denda jika terjadi keterlambambatan pembayaran.

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ قَالَ : هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberinya, penulisnya dan dua saksinya.” Beliau bersabda, “Mereka sama.” (HR Muslim)

Janganlah kita mudah terbujuk oleh bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan lainnya, apalagi renternir alias lintah darat yang menawarkan pinjaman kepada kita dengan cara-cara ribawi sekalipun dengan bunga yang sedikit. Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mudahkan urusan kita.

Keempat: Jika kita membutuhkan modal untuk usaha yang kita jalankan, lebih baik mencari orang yang mau berinvestasi, bukan memilih opsi pinjaman. Investasi lebih berkah dan lebih banyak orang yang berminat melakukannya dibandingkan mencari orang yang mau memberikan pinjaman kepada kita tanpa persyaratan riba.

Kelima: Jika kita berhutang, niatkan dalam hati bahwa kita akan bersungguh-sungguh melunasinya. Karena Allah akan menolong seorang hamba yang berhutang dan memiliki niat untuk melunasinya. Sebaliknya, Allah akan menyusahkan urusan orang yang berhutang dengan niat tidak melunasinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Siapa yang mengambil harta orang lain dan ia berniat untuk melunasinya, maka Allah akan mudahkan baginya untuk melunasinya. Dan siapa yang mengambilnya dengan niat untuk sekedar menghabiskannya (dan tidak melunasinya), maka Allah akan menghancurkan urusannya.” (HR Bukhari)

Keenam: Hendaknya tidak menunda-nunda pembayaran atas utang Anda jika telah jatuh temponya dan Anda telah mampu untuk membayarnya. Karena menunda-nunda pelunasan termasuk kezaliman yang tidak disukai Allah.

مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلْمٌ

“Menunda-nunda pelunasan dalam keadaan mampu adalah kezaliman.” (HR Bukhari Muslim)

Ketujuh: Tulislah utang piutang itu dengan jelas agar di kemudian hari tidak perjadi perselisihan. Hal ini juga yang dianjurkan oleh Allah melalui firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.” (QS. Al Baqarah: 282)

Kedelapan: Jika kita berhutang, alangkah lebih baik jika utang itu disertai dengan barang gadaian yang kita gadaikan kepada pemilik piutang sebagai jaminan. Hal ini guna menambah semangat kita dalam melunasi utang tersebut.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dengan utang dan menggadaikan baju besinya. (HR Bukhari)

Kesembilan: Di zaman sekarang muncul kartu kredit. Hendaknya kita menghindari kartu ini. Setidaknya karena dua alasan:

– Kartu kredit akan membaca kita pada sifat konsumtif dan bermudah-mudahan dalam utang.

– Kartu kredit dapat menjerumuskan kita kepada riba, khususnya jika kita terlambat membayar tagihannya.

Kesepuluh: Seringlah kita berdoa kepada Allah agar dilindungi dari lilitan utang. Diantaranya dengan doa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gundah dan sedih, dari kelemahan dan rasa malas, dari sifat penakut dan kikir, serta dari lilitan utang dan penguasaan manusia.” (HR Bukhari)

Begitu pun dengan doa yang telah lalu,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari dosa dan utang.” (HR Bukhari Muslim)

Wallahu A’lam, wa Shallallahu wa Sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 28 Rabiul Awwal 1348 H/28 Desember 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info