Back to top

Beberapa Contoh Semangat Salaf Dalam Sunnah

Pertama

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya hadis Nu’man bin Salim, dari Amr bin Aus radhiyallahu ‘anhuma, menceritakan kepadaku Anbasah bin Abi Sufyan berkata, aku mendengar Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat dua belas rakaat dalam satu hari satu malam, akan dibangunkan untuknya dengan rakaat-rakaat itu sebuah rumah di surga.”[1] Ummu Habibah berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan rakaat-rakaat itu sejak aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anbasah juga berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Ummu Habibah. Amr bin Aus juga berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Anbasah.” Nu’man bin Salim juga berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Amr bin Aus.

Kedua

Hadis Ali radhiyallahu ‘anhu: Fathimah mengeluhkan bekas di tangannya akibat alat penumbuk gandum, dan telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang tawanan. Fathimah segera berangkat menemui beliau (untuk meminta seorang pembantu –pent) namun tidak bertemu beliau, ia hanya bertemu dengan Aisyah dan menceritakannya kepada Aisyah. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah menceritakan perihal kedatangan Fathimah kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang kepada kami saat kami telah berada di tempat tidur kami. Kami hendak bangkit, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tetaplah ditempat kalian berdua.” Beliau pun duduk di tengah-tengah kami hingga aku dapat merasakan dinginnya kaki beliau di dadaku. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian pinta? Jika kalian berdua hendak tidur, maka bertakbirlah 34 kali, bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, itu lebih baik untuk kalian berdua daripada seorang pembantu.”[2]

Dalam riwayat yang lain, Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ditanyakan kepada Ali, “Tidak juga malam perang Shiffin?” Ali berkata, “Tidak, begitu juga pada malam perang Shiffin.”[3]

Sebagaimana diketahui bahwa malam Shiffin adalah malam tragedi peperangan. Ali menjadi pemimpin pasukan dalam perang tersebut. Namun demikian, ia tidak meninggalkan sunnah ini karena alasan sibuk. 

Ketiga

Ibnu Umar sebelumnya biasa shalat jenazah, kemudian pergi dan tidak ikut mengantarkannya. Ia menyangka bahwa seperti itulah sunnah dan ia tidak mengetahui keutamaan yang terdapat dalam perbuatan mengantarkan jenazah hingga dikebumikan. Tatkala sampai kepadanya hadis Abu Hurairah, ia sangat menyesal karena telah terlewatkan sebuah sunnah. Renungkanlah apa yang dikatakannya?

Dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, ia sedang duduk di sisi Abdullah bin Umar. Datanglah Khabbah dan berkata, “Wahai Abdullah bin Umar, tidakkah engkau mendengar perkataan Abu Hurairah? Ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang pergi bersama jenazah dari rumahnya, kemudian menshalatkannya, lalu mengantarkannya sampai dikebumikan, maka pahala baginya adalah dua qirath, setiap qirath besarnya seperti gunung Uhud. Adapun orang yang menshalatkannya lalu pulang, maka ia hanya mendapat pahala seperti satu gunung Uhud.” Ibnu Umar mengutus Khabbab agar menemui Aisyah untuk bertanya kepadanya perihal perkataan Abu Hurairah tersebut, lalu ia kembali kepadanya membawa kabar dari Aisyah. Ibnu Umar mengambil satu genggam tanah masjid dan membolak-balikkannya di tangannya. Hingga datang sang utusan kepadanya dan berkata, “Aisyah berkata, “Abu Hurairah benar.” Seketika itu Ibnu Umar membanting tanah yang ada di tangannya, lalu berkata, “Sungguh kita telah melewatkan qirath-qirath yang banyak.”[4]

Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam kisah ini terdapat gambaran semangat para sahabat dalam ketaatan saat mereka mengetahuinya, dan merasa menyesal jika mereka terlewat darinya, walaupun karena sebelumnya mereka tidak mengetahui besarnya kedudukan suatu amalan tersebut.”[5]

Keempat

Hadis Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu, seorang kerabat Abdullah bin Mughaffal melakukan khadzf, ia pun melarangnya seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang khadzf, beliau bersabda, “Sesungguhnya ia tidak dapat melumpuhkan binatang buruan dan tidak juga dapat mengalahkan musuh. Ia justru dapat memecahkan gigi, atau melukai mata.” Namun kerabatnya itu tetap melakukannya lagi. Sehingga Abdullah berkata, “Aku sampaikan kepadamu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal itu kemudian engkau tetap melakukan khadzf, aku tidak akan berbicara kepadamu lagi.”[6]

Khadzf adalah: melempar dengan batu kecil atau biji kurma dan yang lainnya, biasanya diletakkan diantara dua jari telunjuk atau telunjuk dan ibu jari.

Contoh-contoh komitmen mereka terhadap sunnah dan penghormatan mereka kepadanya sangat banyak. Tidak mengherankan, karena mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat kepada kebaikan. Hal ini pula yang telah memberi pengaruh kepada orang-orang yang datang setelah mereka dari kalangan salaf dan generasi utama. Sejarah telah mencatat untuk kita contoh-contoh yang menggugah jiwa untuk meniti jalan sunnah dari mereka yang mengikuti generasi sebelumnya dalam hal komitmen mereka terhadap sunnah.

Imam Ahmad rahimahullah mendokumentasikan lebih dari 40.000 hadis dalam kitabnya ‘al Musnad’, dan ia pun telah mengamalkan semuanya. Ia berkata, “Tidaklah aku meninggalkan sebuah hadis melainkan aku telah mengamalkannya.” Tatkala ia membaca hadis, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dihijamah dan memberi Abu Thibah (orang yang menghijamah Nabi) satu dinar, Imam Ahmad berkata, “Aku berhijamah, lalu aku beri orang yang telah menghijamahku uang satu dinar.” Satu dinar sama dengan 4 seperempat gr emas. Namun demi mengamalkan hadis, Imam Ahmad rela mengeluarkannya.

Kita memohon kepada Allah agar Dia berkenan menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hati-hati kita, agar keutamaan, karunia dan kedekatan dengan Allah azza wa jalla dapat teraih. Apapun sunnah Nabi-Nya yang telah ditinggalkan, maka mengikutinya akan membuat kita mendapatkan kemuliaan ittiba’, cahaya hati dan kehidupannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ibnu Atho berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya dengan adab-adab sunnah, Allah akan terangi hatinya dengan cahaya ma’rifah. Tidak ada kedudukan yang lebih mulia dari mengikuti sang kekasih, dalam perintahnya, perbuatannya dan akhlaknya.”[7]

Ia juga berkata, “Engkau akan melihat orang yang selalu mengikuti perintah dan sunnah berbalut pakaian kehidupan dan cahaya, dengan keduanya ia mendapat kenikmatan, wibawa, kemuliaan dan penerimaan, yang tidak didapatkan oleh orang selain mereka. Sebagaimana perkataan Hasan, “Seorang mukmin itu adalah orang yang dikaruniai kelezatan dan kewibawaan.”[8]

————————–

[1] HR Muslim: 1727

[2] HR Bukhari: 3705, Muslim: 2727.

[3] HR Bukhari: 5362, Muslim: 2727.

[4] HR Bukhari: 1324, Muslim: 945.

[5] Al Minhaj: 7/15.

[6] HR Bukhari: 5479, Muslim: 1954.

[7] Madariju As-Salikin: 2/644.

[8] Ijtima’ al Juyusy al Islamiyyah: 1/8. 

[Dinukil dari kitab, “Al Minah al ‘Aliyyah Fii Bayan al Sunnah al Yaumiyyah”, Abdullah bin Hamud al Furaih]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info