Back to top

Buah Indah Mengikuti Sunnah

bid'ahPertama: Mencapai tingkat mahabbah (cinta).

Dengan melakukan taqarrub kepada Allah melalui amalan-amalan sunnah, cinta Allah akan diraih seorang hamba.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak akan mencintaimu melainkan jika engkau mengikuti kekasih-Nya lahir dan batin, membenarkan kabarnya, mentaati perintahnya, menyambut seruannya, mendahulukan kepentingannya, serta engkau berpaling dari hukum selainnya kepada hukumnya, dari cinta kepada makhluk selainnya kepada cinta kepadanya, dari ketaatan kepada selainnya kepada ketaatan kepadanya. Jika tidak demikian, maka janganlah engkau berlelah-lelah, kembalilah dari arah yang engkau kehendaki, carilah cahaya, engkau tidak berada pada apa pun.”[1]

Kedua: Mendapat kesertaan Allah ta’ala bagi hamba.

Dengan kesertaan-Nya, Allah akan memberinya taufiq kepada kebaikan, perbuatan anggota badannya akan selalu dalam ridho Rabbnya, karena jika ia mendapatkan cinta-Nya, ia pun akan mendapatkan kesertaan-Nya.

Ketiga: Doanya akan dikabul karena ia telah mendapatkan cinta-Nya.

Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah, maka ia akan meraih cinta-Nya, dan siapa saja yang telah berhasil meraih cinta-Nya, doanya akan dikabulkan.

Tiga buah diatas ditunjukkan oleh hadis berikut:

Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi waliku, maka aku akan memeranginya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai dari amalan-amalan fardhu. Jika hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, Aku akan mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia berbuat, menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Jika ia meminta sesuatu kepada-Ku, Aku akan kabulkan, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku Aku akan melindunginya. Tidaklah Aku menjadi ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku akan lakukan selain keraguanku untuk mencabut nyawa seorang mukmin, ia tidak suka dengan kematian, dan aku pun tidak suka menyakitinya.”[2]

Keempat: Melengkapi kekurangan dalam amalan-amalan fardhu.

Amalan-amalan sunnah juga berfungsi untuk melengkapi kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam ibadah-ibadah fardhu.

Hal ini ditunjukkan oleh Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan yang seorang hamba pertama kali akan dihisab dengannya pada hari kiamat adalah shalatnya, jika bagus, berarti ia beruntung dan selamat. Jika buruk (shalatnya), berarti ia rugi dan celaka. Jika terjadi kekurangan dalam amalan fardhunya, Rabb azza wa jalla akan berfirman, “Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah? Dilengkapilah dengan amalan sunnah itu ibadah-ibadah fardhunya, begitulah seterusnya amalan-amalannya.”[3]

Kelima: Hati menjadi hidup -sebagaimana telah dijelaskan.

Jika seorang hamba menjaga amalan sunnah, maka yang lebih penting dari itu akan lebih dapat ia jaga. Ia akan sulit menelantarkan amalan-amalan wajib. Selain itu, ia akan mendapat keutamaan yang lain, yaitu: mengagungkan Allah ta’ala. Sehingga hatinya menjadi hidup dengan ketaatan kepada Rabbnya. Barangsiapa yang meremehkan amalan-amalan sunnah, bisa jadi akibatnya ia terhalang dari amalan-amalan fardhu.

Keenam: Terjauh dan terjaga dari bid’ah.

Karena seorang hamba, semakin ia mengikuti ajaran-ajaran yang terdapat dalam sunnah, ia akan kian semangat untuk tidak beribadah dengan amalan apapun melainkan dalam sunnah terdapat dalil yang diikutinya. Dengan ini, ia selamat dari jalan kebid’ahan.

Masih banyak manfaat lain dari menjaga sunnah. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Setiap orang yang mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah akan mencukupinya, membimbingnya, menolongnya dan memberi rizki kepadanya.”[4] Murid beliau, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka, siapapun yang bersahabat dengan al Qur`an dan sunnah, terasing dari dirinya sendiri dan manusia, berhijrah dengan hatinya menuju Allah, ia lah orang yang jujur dan benar.”[5]

————————

Catatan Kaki:

[1] Madariju As-Salikin: 3/37.

[2] HR Bukhari: 6502.

[3] HR Ahmad: 9494, Abu Dawud: 864, Tirmidzi: 413, dinilai shahih oleh al Albani (shahih al Jami’: 1/405)

[4] Al Qawa’id al Jalilah: 1/160.

[5] Madariju As Salikin: 2/367. 

[Dinukil dari kitab, “Al Minah al ‘Aliyyah Fii Bayan al Sunnah al Yaumiyyah”, Abdullah bin Hamud al Furaih]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info