Back to top

Sunnah Fajar

siluet-masjid-4Sunnah rawatib yang sangat ditekankan adalah shalat sunnah fajar. Dalilnya:

  1. Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Beliau tidak pernah benar-benar menjaga amalan sunnah melebihi shalat dua rakaat sebelum subuh.”[1]
  2. Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat fajar, lebih baik dari dunia dan seisinya.”[2]

Dalam shahih Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha juga, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda tentang dua rakaat ketika terbit fajar, “Sungguh dua rakaat itu lebih aku sukai dari dunia seluruhnya.”[3]

  1. Dalam shahih Bukhari dan Muslim terdapat hadis yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat sunnah fajar dan witir, baik dalam keadaan bermukim atau dalam perjalanan (safar).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, beliau tidak pernah meninggalkannya (shalat sunnah fajar) dan shalat witir, baik dalam keadaan safar atau tidak. Dalam keadaan safar, beliau terus melaksanakan shalat sunnah fajar. Dan shalat witir, adalah yang paling ditekankan dari seluruh amalan sunnah. Tidak pernah dinukil dari beliau dalam keadaan safar beliau melaksanakan shalat sunnah rawatib selain keduanya.”[4]

Shalat sunnah fajar memiliki kekhususan dari beberapa sisi:

Pertama, ia tetap disyariatkan baik dalam keadaan safar atau tidak sebagaimana keterangan yang telah lalu. Adapun shalat rawatib yang lain, maka yang sunnah adalah ditinggalkan dalam keadaan safar, seperti sunnah rawatib zuhur, maghrib dan isya.

Kedua, ganjarannya lebih baik dari dunia dan seisinya sebagaimana keterangan yang lalu.

Ketiga, disunnahkan untuk dilaksanakan secara ringan. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat dua rakaat fajar, beliau meringkasnya, hingga aku berkata dalam hati, “Apakah beliau membaca surat al Fatihah padanya atau tidak?”[5] akan tetapi dengan syarat, meringankan shalat ini tidak berakibat mengurangi yang wajib atau terlalu cepat, sehingga terjatuh pada hal yang dilarang.

Keempat, disunnahkan pada shalat fajar, setelah membaca surat al Fatihah membaca “qul yaa ayyuhal kaafiruun.” pada rakaat pertama dan membaca, “qul huwallaahu ahad” pada rakaat kedua.

Atau, pada rakaat pertama membaca,

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 136)

Dan pada rakaat kedua membaca,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)

Sunnah yang datang dengan beberapa bentuk, hendaknya diamalkan secara bervariasi.

Dalil untuk bacaan-bacaan diatas adalah:

  1. Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada dua rakat fajar, “qul yaa ayyuhal kaafiruun.” Dan “qul huwallahu ahad.”[6]
  2. Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua rakaat fajar, pada rakaat pertama, “quuluuu aamannaa… (QS. Al Baqarah: 136) dan pada rakaat kedua, “falammaa ahassa ‘iisaa.. (QS. Ali Imran: 52)[7] dalam riwayat Muslim, dari Ibnu Abbas, “Pada rakaat kedua, “qul yaa ahlal-kitaabi… (QS. Ali Imran: 64)[8]

Kelima, disunnahkan idhthijaa’ (berbaring) ke sebelah kanan setelah melaksanakan shalat sunnah fajar. Dalilnya:

  1. Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa jika selesai shalat dua rakaat fajar, beliau berbaring ke sebelah kanannya.”[9]
  2. Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa jika selesai shalat dua rakaat fajar, jika aku kebetulan terbangun, beliau berbicara denganku, kalau tidak, beliau berbaring.”[10]

Idhthijaa` ini diperselisihkan para ulama:

Ada yang mengatakan, ia hukumnya sunnah secara mutlak setelah melaksanakan shalat sunnah fajar. Ini adalah pendapat kebanyakan para ulama. Sesuai dengan hadis Aisyah tadi. Diantara para sahabat yang mengamalkan dan memfatwakannya adalah, Abu Musa al Asy’ary, Rafi bin Khadij, Anas bin Malik dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Ibnu Sirin, Urwah dan para fukaha yang tujuh rahimahumullah.

Ada yang mengatakan, disunnahkan bagi orang yang shalat malam dengan panjang, untuk beristirahat dengan idhthijaa` ini. Pendapat ini yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Pendapat pertama adalah pendapat yang lebih kuat –wallahu a’lam.

________________

[1] HR Bukhari: 1196, Muslim: 724.

[2] HR Muslim: 725.

[3] HR Muslim: 725.

[4] Zadul Ma’ad: 1/315.

[5] HR Bukhari: 1171, Muslim: 724.

[6] HR Muslim: 726.

[7] HR Muslim: 727.

[8] HR Muslim: 727.

[9] HR Bukhari: 1160, Muslim: 736.

[10] HR Muslim: 743.

[Dinukil dari kitab, “Al Minah al ‘Aliyyah Fii Bayan al Sunnah al Yaumiyyah”, Abdullah bin Hamud al Furaih]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info