Back to top

Hikmah Beribadah

ibadahAllah pemilik hikmah yang tinggi. Apa pun yang diperintahkan oleh-Nya kepada manusia, tidak kosong dari nilai-nilai yang agung, tujuan-tujuan yang baik, serta manfaat dan maslahat yang besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Allah hanya memerintahkan para hamba dengan hal-hal yang akan memberi manfaat kepada mereka dan melarang mereka dari hal-hal yang akan membahayakan mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah rahimahullah, “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan para hamba untuk melakukan sesuatu karena butuh kepada hal yang diperintahkannya itu. Begitu pun Allah tidak melarang mereka melakukan sesuatu karena pelit kepada mereka. Namun Allah memerintah mereka kepada hal-hal yang memberi maslahat kepada mereka, serta melarang mereka dari hal-hal yang akan mendatangkan kerusakan kepada mereka. Oleh karena itu, Al Qur`an dalam banyak kesempatan memerintahkan untuk mewujudkan kemaslahatan dan melarang untuk berbuat kerusakan.

Seluruh kemaslahatan eksis dalam ketaatan kepada Allah dan seluruh kerusakan terkandung dalam kemaksiatan kepada-Nya. Maslahat dan taat adalah dua hal yang beriringan, begitu pun maksiat dan kerusakan juga dua hal yang beriringan, seperti beriringannya yang baik dan yang halal. Setiap yang baik itu halal dan setiap yang halal itu baik. Setiap yang buruk itu haram dan setiap yang haram itu buruk. Yang makruf lekat dengan ketaatan dan kemaslahatan, sementara yang munkar lekat dengan kemaksiatan dan kerusakan.”[1]

Sebagaimana manusia diciptakan dengan hikmah (tujuan), yaitu untuk beribadah, manusia pun diperintah untuk beribadah dengan hikmah (tujuan). Secara umum, diantara butiran hikmah itu adalah:

Pertama: Untuk Menguji Manusia

Ibadah Allah perintahkan sebagai ujian, agar menjadi jelas siapa orang-orang yang taat dan siapa orang-orang yang durhaka. Yang mau beribadah akan beruntung dan yang enggan beribadah kelak rugi serugi-ruginya. Andai Allah menciptakan manusia begitu saja, tanpa diperintah untuk melakukan sesuatu dan juga dilarang dari perbuatan-perbuatan tertentu, maka kehidupan manusia menjadi sia-sia. Allah berfirman,

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?” (QS. Al Qiyamah [75]: 36)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “As Sidy berkata, “Maksudnya, tidak dibangkitkan.” Mujahid, Asy Syafi’i dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Maksudnya, tidak diperintah dan dilarang.” Dan Nampaknya, ayat diatas mencakup keduanya. Yaitu, manusia tidak dibiarkan begitu saja didunia dengan tidak diperintah dan dilarang, begitu pula tidak dibiarkan di kuburnya dengan tidak dibangkitkan. Intinya, manusia diperintah dan dilarang di dunia, dan kelak akan dikumpulkan di akhirat. Maksudnya disini adalah, penetapan hari akhir dan bantahan kepada orang-orang yang mengingkarinya dari kalangan ahli kesesatan, kebodohan dan sombong.”[2]

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.” (QS Al Insan [76]: 1-2)

Kedua: Untuk Mengagungkan Allah

Ibadah memiliki dimensi pengagungan (ta’dziim) kepada Allah. Maka dengan beribadah, berarti kita mengagungkan Allah azza wa jalla, Rabb yang telah menciptakan kita dan semesta, serta memberi rizki yang melimpah kepada kita. Allah sangat pantas diagungkan oleh makhluk-makhluk-Nya, karena Dia satu-satunya Dzat yang Mahasempurna dalam segala hal. Keagungan Allah tidak terbatas. Kuasa-Nya tidak terhingga. Nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya dan syariat-Nya sangat sempurna, tidak ada kata kurang dan kecacatan. Milik-Nya semua yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dalam genggaman-Nya seluruh urusan makhluk dalam semesta ini.

Allah sering menjelaskan keagungan dan tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam Al Qur`an. Ayat yang berbicara tentang keagungan-Nya, merupakan ayat yang terbaik dalam al Qur`an, yaitu ayat kursi.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Baqarah [2]: 255)

Ayat-ayat yang menunjukkan keagungan dan kekuasaan Allah bertujuan untuk menumbuhkan rasa ta’dzim dalam hati manusia. Dan sebagai makhluk yang berada dalam kuasa dan pengaturan-Nya, maka manusia wajib untuk mengagungkan-Nya dengan cara beribadah kepada-Nya.

Ketiga: Untuk Menguatkan dan Mendekatkan Hubungan dengan Allah

Nama lain dari ibadah adalah qurbah, artinya adalah sesuatu yang akan mendekatkan diri kepada Allah. Aktifitas ibadahnya disebut dengan taqarrub. Dengan ibadah, manusia akan menjadi dekat dengan Allah. Semakin kuat ibadah seseorang, maka kian dekat ia dengan Allah. Banyak sekali keistimewaan yang akan didapatkan oleh orang yang dekat dengan Allah ta’ala.  Kedekatan akan mendatangkan cinta. Allah menyatakan dalam hadis Qudsi, “Dan  hamba-Ku terus  mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku pun mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia melihat, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya dia berbuat, kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika ia meminta kepadaku, aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan, maka Aku akan melindunginya.” (HR Muslim)

Sulthan Ulama, al Izz Ibnu Abdissalam rahimahullah berkata, “Seluruh orientasi ibadat adalah taqarrub kepada Allah azza wa jalla.”[3]

Manusia selalu bergantung dan membutuhkan Penciptanya. Manusia yang dekat dengan-Nya, akan merasakan ketenangan jiwa dan kenyamanan batin. Sementara orang yang jauh dari-Nya, hatinya akan dipenuhi rasa gundah dan ketidaknyamanan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hati, tidak akan baik, bahagia, tidak akan mendapat kenikmatan, kesenangan, kelezatan, ketentraman dan ketenangan, melainkan dengan ibadah kepada Rabbnya, mencintai dan kembali menuju kepada-Nya.”[4]

Keempat: Untuk Mensucikan Jiwa

Pensucian jiwa atau yang juga disebut dengan tazkiyatun-nufuus sangat penting bagi jiwa manusia. Manusia terdiri dari dua entitas; jasad dan jiwa. Dua-duanya memiliki kehidupan. Jasad hidup dengan ruh, sementara jiwa hidup dengan kesuciannya.

Ada kelezatan yang dirasakan oleh jasad dan ada kelezatan yang dirasakan oleh jiwa. Semakin suci jiwa seseorang, semakin hidup dan bahagia jiwanya, walaupun jasadnya menerima siksaan sekalipun. Sebaliknya, kian kotor jiwa seseorang, maka jiwanya kian sengsara, sakit, bahkan bisa mati, walaupun jasadnya dapat menikmati segala kelezatan materi sekalipun. Jiwa yang suci adalah jiwa yang tunduk kepada Allah dengan beribadah. Sementara jiwa yang kotor adalah jiwa yang penuh dosa dan kemaksiatan.

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams [91]: 7 – 10)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maknanya, sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, maksudnya, dengan ketaatan kepada Allah –seperti yang dikatakan Qatadah, dan mensucikannya dari akhlak yang rendah dan buruk…” Mengotori hati dilakukan dengan cara menjauhkannya dari petunjuk, sehingga bermaksiat dan meninggalkan ketaatan.”[5]

Ibadah akan membuat jiwa menjadi kaya. Karena dengan beribadah manusia hanya akan butuh kepada Allah yang Mahakaya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, kekayaan sebenarnya adalah kekayaan jiwa atau kekayaan hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kelima: Untuk Merealisasikan Ketakwaan

Dengan beribadah, seorang hamba akan menjadi orang yang bertakwa. Dan takwa, adalah pendorong utama menuju perilaku yang baik, serta benteng yang kokoh untuk melindungi manusia dari pengaruh-pengaruh buruk yang akan membawanya pada perbuatan tidak terpuji. Allah berfirman,

“Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2]: 21)

Keenam: Untuk Membebaskan Manusia

Jika seorang hamba telah menyatakan dirinya hanya beribadah kepada Allah, berarti, ia sesungguhnya telah memproklamirkan kemerdekaan dan kebebasan dirinya dari segala bentuk tirani dan perbudakan sesama makhluk. Saat ia hanya pasrah kepada pencipta dan pemilik-Nya, ketenangan dan kedamaian hidup pun dirasakannya.

Manusia yang tidak pasrah dengan beribadah kepada Allah, hidupnya akan terbelenggu oleh perbudakan yang membawanya pada ruang kehidupan yang sempit, menyengsarakan, dan tidak memberikan ketenangan seutuhnya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah berkata, “Penyakit paling besar yang mendatangkan rasa gundah dan khawatir, menjatuhkan martabat kemanusiaan seorang hamba dan kemerdekaannya adalah ketergantungan kepada makhluk, selalu meminta kepada mereka, merendahkan diri dan berharap kepada mereka, serta berambisi pada apa yang mereka miliki. Orang yang seperti itu, jiwanya terikat dan hatinya tertawan oleh selain Allah.”[6]

Ketujuh: Untuk menanamkan karakter positif

Dalam ibadah-ibadah yang Allah perintahkan, nampak dengan jelas dimensi pendidikan atau latihan, agar dalam diri manusia tertanam karakter positif, mental yang kuat dan kepribadian yang baik. Ibadat-ibadat itu mendidik individu-individu manusia agar memiliki karakter disiplin dan fokus seperti dalam ibadah shalat, karakter pemurah dan tidak kikir seperti dalam ibadah zakat, karakter penyabar dan tulus seperti dalam ibadah puasa dan lain sebagainya.

——————–

[1] Jami al Masa`il: 4/45-46.

[2] Tafsir al Qur`an al Adzim: 7/440 -441

[3] Maqashidu al Ibadat, 11.

[4] Syarh al Ubudiyyah, 95.

[5] Tafsir al Qur`an al Adzim: 7/579.

[6] Al Riyadh al Nadhirah wa al Hadaa`iq al Nayyirah al Zahirah, hal. 197. 

[Dinukil dari buku “Masih Perlukah Kita Beribadah?”]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info