Back to top

Tafsir Surat Al Humazah

quranSurat ini disebut “Al Humazah”. Imam al Bukhary dalam shahihnya menyebut surat ini dengan nama “Suratu Wailul likulli Humazatil Lumazah” sesuai dengan ayat pertamanya. Fairuz Abady menyebutkan dalam kitabnya, “Bashairu Dzawi At Tamyiz” dengan “Suratu Al Huthamah” karena disebutkan lafadz tersebut padanya. Surat ini termasuk Makkiyyah dengan kesepakatan para ulama. (At Tahrir wa At Tanwir: 30/535)

Allah berfirman,

Bismillahir rahmanir rahim.

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1)

  1. Kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela,

Ada dua surat dalam al Qur`an yang dimulai dengan kata wail. Yang pertama surat ini dan yang kedua adalah surat al Muthaffifin. Rangkaian kalimat yang dimulai dengan lafadz wail dapat bermakna doa atau juga kabar. Jika doa, maka maknanya adalah, “Semoga keburukan/kecelakaan menimpa para pengumpat dan pencela.” Jika kabar, maka maknanya adalah, “Kecelakaan/keburukan sungguh akan menimpa para pengumpat dan pencela.”  

Allah sering menggunakan kata Wail dalam Al Qur`an. Disebutkan antara lain bagi orang-orang Yahudi, kafir, musyrik, zalim, para pendusta dan lain-lain. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa Wail adalah sebuah lembah di neraka jahannam.

Tentang lafadz “Humazah” dan “Lumazah”, sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa makna keduanya satu, yakni merendahkan dan menjelek-jelekkan manusia, baik dengan perkataan atau perbuatan, dengan terselubung atau terang-terangan, dihadapan orangnya atau dibelakangnya.

Namun mayoritas ahli tafsir membedakan keduanya. Ada sejumlah pendapat mengenai perbedaan keduanya di kalangan ahli tafsir. Ada tujuh pendapat yang dikemukakan dalam Zad al Masir fi Ilmi At Tafsir. Sementara Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Al Hammaz” dengan perkataan dan “Lammaz” dengan perbuatan, merendahkan manusia dan menghina mereka.” Ada juga yang mengatakan sebaliknya, seperti yang dikutip dari Mujahid dan Ibnu Zaid.

Merendahkan orang lain dengan perbuatan antara lain dilakukan dengan isyarat tangan, memalingkan muka, mengedipkan mata atau memicingkannya, menjulurkan lidah, merubah bentuk bibir dan lain-lain. Intinya, semua gerak gerik tubuh yang tujuannya untuk merendahkan, mengejek, atau menghina terlarang berdasarkan ayat ini.

Demikian pula dengan perkataan, seperti mencela, mencaci maki, berteriak, memanggil dengan gelar-gelar buruk, menyebut sifat-sifat buruk atau kekurangan yang ada pada diri seseorang, baik di hadapan atau dibelakangnya (ghibah) dalam rangka merendahkannya. Ini semua termasuk perbuatan yang akan mengakibatkan kecelakaan kelak.

 الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2)

  1. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,

Pada ayat ini Allah menyebutkan salah satu sifat tercela sebagian manusia yang kelak akan berakibat keburukan. Yaitu mengumpulkan harta dan senantiasa menghitung-hitungnya. Maksudnya adalah orang yang sangat besar ambisinya terhadap harta sehingga dilalaikan olehnya dan tidak mau berinfak di jalan Allah karena takut miskin.

Sekalipun mengumpulkan harta pada asalnya diperbolehkan, namun jika hal itu membawa manusia kepada sifat-sifat buruk, ia menjadi tercela karenanya. Diantara keburukan yang timbul akibat dari ambisi terhadap harta adalah:

– Harta itu melalaikan dari kewajiban. Karena saking sibuknya mencari harta, seseorang lalai dari mengerjakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan malas beribadah kepada-Nya.

– Harta itu dicari dengan cara yang haram. Akibat ambisi terhadap harta, sering manusia menjadi gelap mata, tidak peduli lagi yang haram dan yang halal.

–  Harta itu membuat seseorang sombong dan merendahkan manusia. Makna ini ada kaitannya dengan ayat sebelumnya, yaitu sifat suka mencela dan mengumpat.

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (3)

  1. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,

Ayat ini menjadi penjelasan bagi ayat sebelumnya, yakni untuk menggambarkan betapa ia sangat berambisi terhadap harta, seolah ia tidak akan meninggalkan dunia ini. Ia mengira, hartanya akan mengekalkan hidupnya dan dapat melindunginya dari kematian. Hal itu karena kekekalan di dunia adalah cita-cita tertingginya, sebab ia pada dasarnya tidak meyakini kehidupan yang lain selain dunia ini. Akibat dari prasangka itu pula, ia berbuat sekehendaknya di dunia ini, seakan ia tidak akan meninggalkan dunia ini.

كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ (4)

  1. sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.

Sekali-kali tidak! Kalimat yang dimaksudkan untuk membantah prasangkanya bahwa hartanya itu akan mengekalkannya. Ia justru akan dilemparkan ke dalam neraka Huthamah. Disebut Huthamah karena menghancurkan segala yang dilemparkan ke dalamnya.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ (5)

  1. dan tahukah kamu apa Huthamah itu?

Ungkapan pertanyaan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Huthamah adalah sesuatu yang sangat besar, dalam rangka menimbulkan rasa takut pada diri manusia. Ia adalah siksa Allah yang hendaknya tidak dianggap remeh. Ya, neraka itu sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Setiap orang yang beriman takut terhadapnya.

نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ (6)

  1. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,

Api ini disandarkan kepada Allah untuk menunjukkan bahwa ia adalah api yang diciptakan oleh Allah yang Mahakuasa menciptakan perkara yang besar, yang tidak bisa kita bayangkan. Api ini juga telah dinyalakan sehingga ia sangat panas.

الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ (7)

  1. yang (membakar) sampai ke hati.

Saking panas dan cepatnya bakaran api neraka itu, ia sampai ke hati orang yang disiksa di dalamnya dalam keadaan hidup. Para ahli tafsir mengatakan bahwa bakaran api neraka ini juga membakar hatinya karena hati adalah tempat dari pokok keburukannya ketika di dunia, yaitu kekufuran.

إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ (8)

  1. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,

Api neraka itu mengepung mereka sehingga tidak ada celah dan jalan bagi mereka untuk melarikan diri. Api datang kepada mereka dari setiap arah dan terus menerus menyiksa mereka tanpa henti, sampai pupus harapan mereka untuk keluar darinya, atau sekedar diringankan siksa itu oleh Allah.

فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ (9)

  1. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Untuk semakin menambah derita dan kesengsaraan mereka, orang-orang yang disiksa dalam neraka itu juga diikat pada tiang-tiang yang panjang, sehingga sangat kokoh dan kuat.

Wallahu A’lam, wa Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Info Penerimaan Pesantren

  • Terbanyak Dibaca

  • Akhlak

  • Kisah

  • Tafsir

  • Tulisan Baru

  • Keluarga

  • Dakwah

  • Info